Kondisi Gajah Sumatra di Aceh Terancam Punah

Kondisi “Poe Meurah” yang semakin parah di Aceh

1496615_1004135122935189_3023668777652440662_n

“Poe Meurah” begitulah sebutan masyarakat aceh bagi hewan dari spesies Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang merupakan salah satu dari jenis gajah yang terdapat di alam yang merupakan hewan yang sangat dilindungi oleh pemerintah karena keberadaan jumlah spesies ini di alam sudah sangat sedikit. Oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) yang merupakan lembaga yang bergerak di bidang konservasi berskala internasional telah memberi status konservasi “Critically Endangered” atau “kritis” bagi hewan bertubuh besar ini.

10686751_1004144106267624_2086737093366275324_n

 

Keberadaan gajah sumatera menjadi semakin terancam akibat habitat alami mereka terganggu karena pembukaan lahan oleh masyarakat. Deforestasi menjadi pemicu utama konflik yang berkepanjangan antara gajah dan masyarakat akibat gajah memasuki area perkebunan milik masyarakat karena wilayah jelajah (home range) mereka yang semakin terbatas. Hal ini memaksa masyarakat untuk membunuh gajah yang memasuki area perkebunannya dengan cara menjerat hewan ini dengan jebakan ataupun meracuni hewan ini.

10653733_1004132142935487_5580741811071123703_n

 

Kondisi lain yang menjadi pemicu dalam menurunnya jumlah spesies gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di alam adalah perburuan yang dilakukan terhadap hewan ini untuk mengambil gadingnya. Data dari WWF (World Wildlife Fund) Aceh tercatat sejak tahun 2012 hingga 2014 tidak kurang dari 31 ekor gajah mati di Aceh yang diduga kuat akibat perburuan gading gajah.

Gajah-aceh-timur1-DSC01974

Dua ekor gajah jantan ditemukan tewas dengan jarak terpisah sejauh 200 meter di kawasan PT Perkebunan Dwi Kencana Semesta, di Desa Jambo Reuhat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur pada tanggal 7 September 2014. (Sumber : Hendri/Harian Serambi Indonesia.

Kondisi terkini ditemukan 2 ekor gajah mati di lokasi perkebunan PT Dwi Kencana Semesta, Gampong (desa) Jambo Reuhat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur. Kematian gajah ini diduga akibat perburuan gading oleh para pemburu liar karena ketika ditemui gajah dalam kondisi tanpa gading dan bagian kepala hampir terputus dengan darah yang terus mengalir dari bagian tersebut.

a2d000ac37fa5be968f93caac7dd3000

Kasus ini menambah panjang daftar kematian gajah di Aceh akibat perburuan gading. Penulis berharap agar pemerintah Aceh melalui instansi terkait serius untuk mengusut kasus ini dan menindak tegas para pelaku perburuan gading gajah, agar kelestarian satwa ini tetap terjaga sehingga tidak mengurangi khazanah keanegaragaman hayati fauna di Aceh.

gajah mati di teunom aceh jaya

KEPALA Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Genman Suhefti Hasibuan, mengatakan kasus kematian gajah di pedalaman Aceh Jaya sudah dilimpahkan ke aparat keamanan.

“Kasus ini sudah kita limpahkan kepada Polres Aceh Jaya untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut,” ujar kepala Genman Suhefti Hasibuan kepada Atjehpost.co, Jumat, 5 Desember 2014.

Menurutnya, sampai saat ini BKSDA bekerjasama dengan kepolisian masih kesulitan untuk mengungkap kasus kematian gajah berusia 12 tahun tersebut. Pasalnya, BKSDA tidak bisa melakukan otopsi lantaran seluruh organ tubuh gajah tersebut sudah mencair dan membusuk.

“Hasil dugaan sementara lewat kasat mata dan secada fisik, gajah ini tewas karena tersengat listrik. Hal ini terbukti adanya beberapa potongan kayu yang diikat kawat dan dialiri listrik. Tapi kawatnya tidak kami temukan disana,” ujarnya lagi.

Ia juga menjelaskan, berdasarkan hasil investigasi terhadap fisik gajah jenis kelamin betina dalam kondisi perut terbelah dan seluruh organ dalam perutnya sudah terburai dan meleleh.

pjjphBJsRExrnYb-580x326-noPad

“Dugaan sementara Gajah itu dibunuh dengan cara disetrum sebab akhir-akhir ini warga sering mengeluh kalau kebun dan ladang mereka sering diganggu oleh gajah,” ujarnya lagi.

Seperti diberitakan sebelumnya, seekor gajah berusia 12 tahun diduga mati akibat tersengat arus listrik di pedalaman Aceh Jaya. Hal itu disampaikan Kepala BKSDA Aceh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2018: LPLHI - KLHI | GREEN EYE Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress