June, 2014

now browsing by month

 

ISLAM DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN

LAPINDO

Indonesia adalah negara megabiodiversity artinya memiliki kekayaan alam yang sangat besar. Kepulauan Indonesia yang terdiri atas 17,000 pulau, merupakan tempat tinggal bagi flora dan fauna dari dua tipe yang berbeda asal usulnya. Bagian barat merupakan kawasan Indo-Malayan, sedang bagian timur termasuk kawasan Pacifik dan Australia. Meski daratannya hanya mencakup 1,3 persen dari seluruh daratan di bumi, Indonesia memiliki flora dan fauna yang spektakuler dan unik. Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati yang mengagumkan: 10% dari spesies berbunga yang ada didunia, 12% dari spesies mamalia dunia, 16% dari seluruh spesies reptil dan amphibi, 17% dari seluruh spesies burung, dan 25% dari semua spesies ikan yang sudah dikenal manusia.

 BIODIVERSITY

Gambar Biodiversity

Keanekaragaman kekayaan hayati yang terdapat di Indonesia dijelaskan oleh Al-Qur’an pada surah An-Nahl ayat 14-18. Ayat ini diturunkan ditengah jazirah Arab yang dikelilingi padang pasir, tumbuhan yang ada hanya kaktus dan kurma, namun sahabat-sahabat Rasulullah percaya bahwa negeri yang diceritakan pada surah An-Nahl ayat 14-18 itu benar ada, dan negeri itu adalah Indonesia, surga dunia.

 AYAT 1

14. Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.

15. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk,
16. dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk

17. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran

18. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

Menurut catatan Indonesia Minning Association, Indonesia memiliki kekayaan tambang yang besar, antara lain:

  • Timah terbesar kedua di dunia
  • Tembaga terbesar keempat di dunia
  • Nikel terbesar kelima di  dunia
  • Emas terbesar ketujuh di dunia.
  • Kandungan minyak bumi dengan kualitas terbaik di dunia, begitu juga dengan Batubara (IMA,2009)

 

Kandungan barang tambang juga telah disinggung oleh Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 96-97

 AYAT 2

 

96. berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu).” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu.”

97. Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.

 

Karunia yang diberikan oleh Allah berupa keanekaragaman flora dan fauna serta kekayaan alam ternyata tidak syukuri oleh sebagian orang. Mereka melakukan eksploitasi kekayaan alam sebesar-besarnya untuk kepentingan golongannya tanpa mengindahkan akibatnya. Sehingga lingkungan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Akibatnya terjadi banjir, longsor, erosi, kebakaran hutan, hujan asam, pencemaran dimana-mana, sampah menumpuk, timbulnya berbagai penyakit, perubahan cuaca yang tidak menentu, pemanasan global, dan sebagainya

 

Berbagai contoh kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia adalah:

  1. Deforestasi hutan

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada tahun 2010 memperkirakan bahwa luas tutupan hutan Indonesia berkurang dari 118,5 juta ha pada tahun 1990 menjadi 94,4 juta ha pada tahun 2010 atau berkurang sekitar 24,1 juta hektar selama 20 tahun. Sekitar 77% dari kawasan tersebut merupakan hutan tropis primer dengan keanekaragaman hayati dan kepadatan karbon terbesar. .

Perkiraan jumlah emisi di atas tanah yang telah terjadi dan berasal dari deforestasi selama periode 2000-2005 diperkirakan mencapai 0,8 sampai 1,0 GtCO2e/tahun. Jika emisi dari kebakaran dan pengeringan lahan gambut dimasukkan, maka perkiraan tersebut meningkat menjadi 1,7 sampai 2,0 GtCO2e/tahun dengan rata-rata 1,9 GtCO2e/tahun. Emisi ini dihasilkan dari deforestasi dan pengurangan biomassa di atas tanah serta dari oksidasi zat organik di bawah tanah berkaitan dengan degradasi lahan gambut. Oksidasi adalah hasil dari pengeringan dan kebakaran gambut.

  1. Kerusakan Lingkungan di Freeport

Freeport memulai pertambangan terbuka di Ertsberg, kawasan yang selesai ditambang pada tahun 1980-an dan menyisakan lubang sedalam 360 meter. Pada tahun 1988, Freeport mulai mengeruk cadangan raksasa lainnya, Grasberg, yang masih berlangsung saat ini. Dari eksploitasi kedua wilayah ini, sekitar 7,3 juta ton tembaga dan 724, 7 juta ton emas telah dikeruk. Pada bulan Juli 2005, lubang tambang Grasberg telah mencapai diameter 2,4 kilometer pada daerah seluas 499 ha dengan kedalaman 800m. Dari produksi harian Freeport sebesar 200 ribu ton, menghasilkan limbah pasir kimiawi (tailing) sekitar 190 ribu ton. Tailing yang dibuang Freeport ke Sungai Ajkwa melampaui baku mutu total suspend solid (TSS) yang diperbolehkan menurut hukum Indonesia. Limbah tailing Freeport juga telah mencemari perairan di muara sungai Ajkwa dan mengontaminasi sejumlah besar jenis mahluk hidup serta mengancam perairan dengan air asam tambang berjumlah besar.

 FREEPORT

Gambar Tambang Ertsberg

  1. Pertambangan timah terbesar di Indonesia berada di provinsi Bangka Belitung. Provinsi Bangka Belitung terdiri dari Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta pulau-pulau kecil seperti Lepar, Pongok, Mendanau dan Selat Nasik, total pulau yang telah bernama berjumlah 470 buah dan yang berpenghuni hanya 50 pulau. Pulau Dabo Singkep menjadi pusat aktifitas pertambangan timah. Diperkirakan puluhan galian timah yang pernah digali oleh Perusahaan Timah Singkep tidak ditutup kembali. Banyak bekas-bekas galian tersebut digenangi air dan menjadi danau-danau kecil yang oleh warga Dabo Singkep disebut sebagai Kolong. Dabo Singkep  sangat Terkenal dengan julukan ”Kota Nyamuk”, karena puluhan Kolong bekas galian timah yang di genangi air ini menjadi tempat sarang nyamuk untuk berkembang biak. Dan tidak sedikit pula warga masyarakat Dabo Singkep  dan sekitarnya yang diserang oleh penyakit demam berdarah yang disebabkan oleh serangan nyamuk yang begitu banyak.

 TAMBANG TIMAH

Gambar Tambang Timah Bangka Belitung

  1. Hasil penelitian yang dilakukan Rompas (1999), aktifitas penambangan di Minahasa menyebabkan 2000 ton limbah setiap hari dibuang ke Teluk Buyat, dan rata-rata 100.000 ton limbah aktifitas tambang yang dibuang ke Teluk Senunu Sumbawa Nusa Tenggara Barat, yang menyebabkan kerusakan ekosistem, terumbu karang dan perikanan di sekitar perairan. Kasus kerusakan tambang di Teluk Buyat Minahasa dilakukan oleh PT Newmont Minahasa Raya. Tahun 2004, AS menolak 200 juta ton ikan dari Sulawesi. Di Jakarta, banyak ibu-ibu yang berpikir tujuh kali sebelum membeli ikan. Menteri Lingkungan Hidup saat itu Nabiel Makarim, menyatakan perairan Teluk Buyat tidak mengandung bahan berbahaya seperti merkuri dan arsen. Kalaupun ada, kandungan logam berat tersebut masih di bawah ambang batas yang dapat ditolerir. Namun ketika Menteri Lingkungan Hidup berkunjung dalam rangka mempromosikan gerakan makan ikan di Sulawesi, pak Menteri menolak memakan ikan yang dihidangkan ke hadapan beliau.

 NEWMONT

Gambar Tambang PT Newmont Minahasa Raya  di Teluk Buyat

  1. Bencana akibat lumpur Lapindo, menyebabkan angka kerugian Rp 44,7 triliun. Lumpur menggenangi 16 desa di tiga kecamatan. Luapan lumpur telah menyebabkan relokasi warga lebih dari 25.000 jiwa mengungsi, tak kurang 10.426 unit rumah terendam lumpur dan 77 unit rumah ibadah terendam lumpur. Sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan ribuan tenaga kerja. Tercatat 1.873 orang tenaga kerja yang terkena dampak lumpur ini. Kerusakan lingkungan terhadap wilayah yang tergenangi, termasuk areal persawahan.

 LAPINDO

Gambar Lumpur Lapindo

  1. Penurunan Muka Air Tanah

Akibat ekploitasi air tanah dalam yang berlebihan dan beban bangunan bertingkat menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah (land subsidence), yang menambah daerah rawan banjir. Sekitar 80 persen penduduk Jakarta memenuhi kebutuhannya dari air tanah, hidran umum, serta membeli dari pedagang air (UNDP, 2004). Tak heran permukaan air tanah di Jakarta cenderung menurun dari tahun ke tahun sehingga terjadi rembesan air laut ke beberapa wilayah Jakarta.

Penyedotan air tanah di Jakarta telah mencapai 3-4 kali lipat batas toleransi (Bank Dunia, 2003). Rata-rata penurunan permukaan tanah di Jakarta 10 sentimeter atau sepersepuluh meter tiap tahun. Di Jakarta Barat, misalnya, selama 11 tahun terakhir, permukaan tanah turun 1,2 meter. Di wilayah Kemayoran dan Thamrin, Jakarta pusat, penurunannya 80 sentimeter dalam delapan tahun terakhir. Jika hal ini dibiarkan, maka Jakarta akan tenggelam. Akibat penurunan permukaan tanah, diperkirakan, pada tahun 2050, garis pantai Jakarta akan berada di kawasan Hayam Wuruk. Jika penyedotan air tanah tidak dihentikan dari sekarang, garis pantai itu bisa berada di kawasan Semanggi pada 2050.

  1. Penelitian Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) mengungkapkan fakta yang menyedihkan. Mutu aliran sungai di 45 titik pantau di 13 DAS Ciliwung pada 2010: kondisi baik 0%, tercemar ringan 9%, tercemar sedang 9% dan tercemar berat 82 persen. Hal ini dikarenakan 2,5% timbulan sampah Jakarta (600 m3/hari) mengalir di Sungai Ciliwung. Jakarta tercemar bakteri E-Coli, baik tercemar berat maupun sedang. Tidak hanya itu, air tanah dangkal di Jakarta tercemar 80 hingga 90% oleh bakteri E-Coli.

 PENCEMARAN AIR SUNGAI

Gambar 15. Pencemaran Air Sungai

Hasil penelitian Bappenas, menyatakan 80% penyebab pencemaran air sungai itu bukan dari industri, seperti limbah pabrik, melainkan karena pembuangan limbah domestik yang salah satunya adalah tinja. Menurut penelitian, kapasitas tinja manusia dewasa rata-rata 0.2 kg/hari/jiwa

  1. Perubahan Iklim dan Pemanasan Global

Pengaruh perubahan iklim global pada Jakarta adalah kenaikan paras muka air laut. Pemuaian air laut dan pelelehan gletser dan lapisan es di kutub menyebabkan permukaan air laut naik antara 9 hingga 100 cm. Kenaikan tinggi muka air laut antara 8 hingga 30 centimeter akan berdampak parah pada Kota Jakarta yang rentan terhadap banjir dan limpasan badai. Suatu penelitian memperkirakan bahwa kenaikan paras muka air laut setinggi 0,5 meter dan penurunan tanah yang terus berlanjut dapat menyebabkan enam lokasi di Jakarta dengan total populasi sekitar 270.000 jiwa terendam secara permanen, yakni di kawasan Kosambi, Penjaringan dan Cilicing dan tiga lagi di Bekasi yaitu di Muaragembong, Babelan dan Tarumajaya.

Allah SWT dalam surah Al-Maidah ayat 32 telah mengecam manusia yang membuat kerusakan lingkungan, apalagi jika kerusakan lingkungan tersebut membuat orang terbunuh, maka seakan-akan mereka telah membunuh seluruh manusia.

32. Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.

 

Seseorang atau industri apabila membuang sampah atau limbahnya ke sungai sehingga menyebabkan sungai tercemar, kemudian ada orang yang mati karena menggunakan air sungai yang sudah tercemar tersebut, maka industri tersebut seakan-akan membunuh seluruh manusia

 

Begitu juga sebaliknya, apabila seseorang atau industri memelihara kehidupan seseorang, maka seakan-akan seseorang atau industri tersebut memelihara seluruh kehidupan manusia. Misalnya ada komunitas yang fokus pada pemeliharaan sungai dengan mengadakan aktifitas memulung sampah agar sungai tidak tercemar dan tidak menimbulkan banjir, maka komunitas tersebut seakan-akan telah memelihara kehidupan seluruh manusia.

 

Berbagai surah dalam Al-Qur’an juga mengecam kerusakan yang terjadi di darat dan di laut karena perbuatan manusia. Surah tersebut antara lain:

Surah Ar-Rum ayat 41

41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

 

Surah Al-Baqarah ayat 205

وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الأرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الْفَسَادَ

205. Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak. dan Allah tidak menyukai kebinasaan.

 

Surah Al-Baqarah ayat 205 mengingatkan siapapun atau organisasi manapun yang akan melakukan upaya eksplorasi sumber daya alam agar dalam aktifitas prosesnya tidak boleh merusak tanaman dan binatang ternak, apalagi sampai menyebabkan kebinasaan, menghilangkan habitat hewan, menghancurkan tumbuhan langka, merusak ekosistem, dan sebagainya

 

Ada juga masalah lingkungan terkait dengan konflik sosial antara penduduk lokal dengan perusahaan. Konflik yang terjadi di kawasan pertambangan selama ini merepresentasikan ketidakadilan ekonomi dan akses sumber daya yang dialami oleh masyarakat sekitar. Masyarakat menganggap bahwa daerah eksplorasi itu adalah wilayah adat, dan kampung halaman mereka sejak berpuluh bahkan beratus tahun lalu. Di sisi lain, perusahaan merasa memiliki hak terhadap lahan tersebut karena telah mendapatkan otoritas hak izin pertambangan yang diberikan oleh pemerintah berkuasa. Dengan surat izin tersebut mereka merasa berhak untuk melakukan eksplorasi sebesar-besarnya untuk kepentingan ekonominya. Kepentingan yang berbeda antara masyarakat lokal dengan perusahaan sangat berpotensi menjadi konflik yang berdampak merugikan semua pihak.

 

Perbuatan perusahaan dan pemerintah yang tidak mengindahkan hak masyarakat adat juga dikecam oleh Allah SWT dalam surah An Nisaa ayat 29, Allah telah mengingatkan agar setiap orang yang beriman tidak saling memakan harta dengan jalan yang batil.

 29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

 

Namun perniagaan tersebut dapat saja menjadi baik apabila perusahaan berkomitmen menjaga kebersihan lingkungan, tidak mengotori sumberdaya air, membantu masyarakat membuat sanitasi yang layak, memberikan keterampilan kepada masyarakat setempat, membantu pendidikan dan kesehatan masyarakat setempat dan sebagainya. Pola bantuan tersebut dinamakan tanggungjawab sosial masyarakat (Corporate Social Responsibility =CSR), mengenai CSR akan dibahas lebih detail pada bab lain.

 

Islam melarang manusia melakukan kerusakan di muka bumi. Larangan tersebut terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 11-12. Artinya Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “sesungguhnya kami orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar”.

 

Namun seringkali orang-orang yang berbuat kerusakan di muka menyatakan mereka tidak berbuat kerusakan dimuka bumi, bahkan mereka adalah orang-orang yang berbuat perbaikan. Fenomena tersebut banyak terdapat pada kasus kerusakan lingkungan. Perusahaan perkebunan kelapa sawit, tambang, eksplorasi minyak dan gas, dan sebagainya kerapkali melakukan kerusakan lingkungan namun mereka menyatakan mereka adalah perusahaan yang berbuat kebaikan, membuka lapangan kerja, membayar pajak, dan memberikan bantuan CSR (Corporate Social Resposibility).

 

Hujan Asam

Rasulullah pernah mengingat kepada umatnya akan datang suatu masa dimana hujan tidak memberikan keberkahan, tidak menumbuhkan tanaman, namun justru menimbulkan kerusakan.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Kiamat tidak akan terjadi sehingga langit menurunkan hujan, tapi air hujan ini tidak bisa mendorong dibangunnya rumah-rumah tanah liat yang kuat dan tidak menyebabkan berhimpunnya penduduk perkampungan, namun hanya bisa men­dorong dibangunnya rumah-rumah dari bulu. (HR. Ahmad. Ahmad Syakir menshahihkan isnadnya)

 

Dan diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Rasulullah bersabda:

“Tidak akan tiba hari kiamat hingga manusia dihujani dengan hujan secara merata, tetapi bumi tidak menumbuhkan sesuatu.”(Musnad Ahmad)

 

Fenomena hujan yang tidak menumbuhkan sesuatu bahkan cederung merusak disebut hujan asam. Hujan asam diartikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam dengan pH sedikit di bawah 6. Hujan asam biasanya terjadi karena adanya peningkatan kadar asam nitrat dan sulfat dalam polusi udara. Hal ini biasanya terjadi karena peningkatan emisi sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) di atmosfer. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dan tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.

 

Hujan asam disebabkan oleh belerang yang merupakan zat pengotor dalam bahan bakar fosil dan nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke  atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman

 

Penyebab utama hujan asam disebabkan oleh industri, pembangkit tenaga listrik berbahan bakar fosil, kendaraan bermotor dan pabrik pengolahan pertanian terutama amonia. Gas-gas yang dihasilkan oleh proses ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer di atmosfer sebelum berubah menjadi asam dan terdeposit ke tanah.

 

Hujan asam biasanya sulit dibedakan dari hujan air biasa karena warna dan rasanya hampir sama. Tapi kulit bisa merasakan hujan asam jika air hujan yang mengenai kulit langsung membuat gatal-gatal, dan memerah. Untuk orang dengan kekebalan tubuh rendah akan langsung mengalami pusing.

 

Dampak hujan asam

  1. Menghambat perkembangbiakan binatang yang hidup di air, pH yang semakin kecil akan menghambat pertumbuhan larva ikan, sehingga membuat ikan sulit untuk berkembang biak.
  2. Memusnahkan berbagai jenis ikan, menurut penelitian, plankton tidak dapat bertahan hidup apabila pH pada air dibawah 5, sedangkan plankton adalah makanan dasar dari ikan dan keadaan tersebut dapat menyebabkan putusnya rantai makanan
  3. Tanah menjadi tidak subur, mikroorganisme tanah mati, dan tumbuhan pun akan mati
  4. Jika kadar zat asam dalam hujan asam sangat tinggi, dapat membuat tembok ataupun genting bangunan menjadi rapuh karena korosif
  5. Efek korosif pada hujan asam dapat merusak komponen pembangkit listrik, pabrik dan kendaraan bermotor.
  6. Hujan asam yang mengandung sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) dapat membahayakan dan merusak kesehatan manusia.Gas-gas ini di atmosfer berinteraksi untuk membentuk sulfat halus dan partikel nitrat yang dapat dibawa hingga jarak yang jauh oleh angin dan terhirup jauh ke dalam paru-paru manusia.

 

 HUJAN ASAM

Gambar Dampak Hujan Asam Merusak Hutan Pinus di Eropa

PENGELOLAAN LIMBAH GAS

250px-irrigcyclone

Jenis limbah gas yang berada di udara terdiri dari bermacam-macam senyawa kimia. Misalnya, Metan, Amonia, Klorin, karbon monoksida, karbon dioksida, nitrogen oksida, sulfur dioksida, asam klorida (HCl), dan sebagainya.

 

Pencemaran udara berasal dari limbah berupa gas atau materi partikulat yang terbawa bersama gas tersebut. Beberapa cara pengendalian pencemaran udara oleh limbah gas dan materi partikulat yang terbawa bersamanya.

1)      Mengontrol Emisi Gas Buang

Pengendalian gas buang seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, hidrokarbon dan sulfur oksida dilakukan melalui beberapa metode. Gas nitrogen oksida dapat dikurangi dengan cara menurunkan suhu pembakaran kendaraan bermotor. Gas sulfur oksida dapat dikurangi dengan cara desulfurisasi hasil pembakaran bahan bakar menggunakan filter basah. Produksi gas karbon monoksida dan hidrokarbon dapat dikurangi dengan cara memasang alat pengubah katalitik untuk menyempurnakan pembakaran pada kendaraan bermotor.

Disamping itu, emisi gas buang dapat dikurangi dengan cara mengurangi kegiatan pembakaran bahan bakar, mulai menggunakan sumber bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan.

2)      Menghilangkan Materi Partikulat dari Udara Pembuangan

Ada berbagai alat yang dapat digunakan untuk menghilangkan materi partikulat dari udara pembuangan. Salah satunya adalah filter udara. Filter udara adalah alat untuk menghilangkan materi partikulat padat, seperti debu, serbuk sari, dan spora, dari udara. Alat tersebut terbuat dari bahan yang dapat menangkap materi partikulat sehingga udara yang melewatinya akan tersaring dan keluar sebagai udara bersih. Filter udara dapat digunakan pada fentilasi ruangan, cerobong pabrik, mesin kendaraan bermotor, atau pada lokasi lain yang membutuhkan udara bersih. Jenis dan bahan yang digunakan sebagai filter udara bermacam-macam, tergantung pada kandungan udara yang disaring, rnisalnya tergantung kadar debu, bersifat asam atau alkalis, dan sebagainya.

  1. Pengendap siklon

Pengendap siklon atau Cyclone Separator adalah alat pengendap materi partikulat yang ikut dalam gas atau udara buangan. Prinsip kerja pengendap siklon adalah memanfaatkan gaya sentrifugal dari gas buangan yang sengaja dihembuskan melalui tepi dinding tabung siklon sehingga partikel yang relatif berat akan jatuh ke bawah. Ukuran materi partikulat yang bisa diendapkan oleh alat ini adalah antara 5-40 µ. Makin besar ukuran partikel, makin cepat partikel tersebut diendapkan.

250px-irrigcyclone

Gambar Pengendap Siklon

  1. Filter basah

Filter basah adalah alat membersihkan udara yang kotor dengan cara menyalurkan udara ke dalam filter kemudian menyemprotkan air ke dalamnya. Saat udara kontak dengan air, materi partikulat padat dan senyawa lain yang larut air akan ikut terbawa air turun ke bagian bawah sedangkan udara bersih dikeluarkan dari filter. Air yang digunakan untuk menyemprot udara kotor juga dapat diganti dengan senyawa cair lain yang dapat melarutkan polutan udara. Contoh senyawa atau materi partikulat yang dapat dibersihkan dari udara dengan menggunakan filter basah adalah ammonia (NH4), debu, hidrogen klorida (HCl), sulfur oksida, dan senyawa asam atau basa lain.

wet-filter-medium

Gambar Filter Basah

  1. Pengendap sistem gravitasi

Alat pengendap sistem gravitasi hanya dapat digunakan untuk membersihkan udara yang mengandung materi partikulat dengan ukuran partikel relatif besar, yaitu sekitar 50µ atau lebih. Cara kerja alat ini sangat sederhana sekali, yaitu dengan mengalirkan udara yang kotor ke dalam alat yang dapat memperlambat kecepatan gerak udara. Saat terjadi perubahan kecepatan secara tiba-tiba, materi partikulat akan jatuh terkumpul di bagian bawah alat akibat gaya beratnya sendiri.

s-15

Gambar Pengendap Sistem GRavitasi

  1. Pengendap elektrostatik

Alat pengendap elektrostatik digunakan untuk membersihkan udara yang kotor dalam jumlah (volume) yang relatif besar dan pengotor udaranya umumnya adalah aerosol atau uap air. Alat pengendap elektrostatik ini menggunakan elektroda yang dialiri arus searah (DC). Udara kotor disalurkan ke dalam alat dan elektroda akan menyebabkan materi partikulat yang terkandung dalam udara mengalami ionisasi. Ion-ion kotoran tersebut akan ditarik ke bawah sedangkan udara bersih akan terhembus keluar.

electrostatic-precipitator

Gambar Pengendap Elektrostatik

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

solidifaction wasted

PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

Pengelolaan Limbah B3 merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang mencakup penyimpanan, pengumpulan, pemanfaatan, pengangkutan, dan pengolahan limbah B3 termasuk penimbunan hasil pengolahan tersebut. Sehingga dapat disimpulkan pelaku pengelolaan limbah B3 antara lain :

  • Penghasil Limbah B3
  • Pengumpul Limbah B3
  • Pengangkut Limbah B3
  • Pemanfaat Limbah B3
  • Pengolah Limbah B3
  • Penimbun Limbah B3

 

Mayoritas pabrik tidak menyadari, bahwa limbah yang dihasilkan termasuk dalam kategori limbah B3, sehingga limbah dibuang begitu saja ke sistem perairan tanpa adanya proses pengolahan. Pada dasarnya prinsip pengolahan limbah adalah upaya untuk memisahkan zat pencemar dari cairan atau padatan. Walaupun volumenya kecil, konsentrasi zat pencemar yang telah dipisahkan itu sangat tinggi. Selama ini, zat pencemar yang sudah dipisahkan atau konsentrat belum tertangani dengan baik, sehingga terjadi akumulasi bahaya yang setiap saat mengancam kesehatan manusia dan keselamatan lingkungan hidup. Untuk itu  limbah B3 perlu dikelola antara lain melalui pengolahan limbah B3.

Toxic-Waste

Gambar Limbah B3

Upaya pengelolaan limbah B3 dapat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:

  1. Reduksi limbah dengan mengoptimalkan penyimpanan bahan baku dalam proses kegiatan atau house keeping, substitusi bahan, modifikasi proses, maupun upaya reduksi lainnya.
  2. Kegiatan pengemasan dilakukan dengan penyimbolan dan pelabelan yang menunjukkan karakteristik dan jenis limbah B3 berdasarkan acuan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : Kep-05/Bapedal/09/1995.

Pengemasan limbah B3 dilakukan sesuai dengan karakteristik limbah yang bersangkutan. Secara umum dapat dikatakan bahwa kemasan limbah B3 harus memiliki kondisi yang baik, bebas dari karat dan kebocoran, serta harus dibuat dari bahan yang tidak bereaksi dengan limbah yang disimpan di dalamnya. Untuk limbah yang mudah meledak, kemasan harus dibuat rangkap di mana kemasan bagian dalam harus dapat menahan agar zat tidak bergerak dan mampu menahan kenaikan tekanan dari dalam atau dari luar kemasan. Limbah yang bersifat self-reactive dan peroksida organik juga memiliki persyaratan khusus dalam pengemasannya. Pembantalan kemasan limbah jenis tersebut harus dibuat dari bahan yang tidak mudah terbakar dan tidak mengalami penguraian atau dekomposisi saat berhubungan dengan limbah. Jumlah yang dikemas pun terbatas sebesar maksimum 50 kg per kemasan sedangkan limbah yang memiliki aktivitas rendah biasanya dapat dikemas hingga 400 kg per kemasan.

  1. Penyimpanan dapat dilakukan di tempat yang sesuai dengan persyaratan yang berlaku acuan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor: Kep-01l/Bapedal/09/1995.

Limbah B3 yang diproduksi dari sebuah unit produksi dalam sebuah pabrik harus disimpan dengan perlakuan khusus sebelum akhirnya diolah di unit pengolahan limbah. Penyimpanan harus dilakukan dengan sistem blok dan tiap blok terdiri atas 2×2 kemasan. Limbah-limbah harus diletakkan dan harus dihindari adanya kontak antara limbah yang tidak kompatibel. Bangunan penyimpan limbah harus dibuat dengan lantai kedap air, tidak bergelombang, dan melandai ke arah bak penampung dengan kemiringan maksimal 1%. Bangunan juga harus memiliki ventilasi yang baik, terlindung dari masuknya air hujan, dibuat tanpa plafon, dan dilengkapi dengan sistem penangkal petir. Limbah yang bersifat reaktif atau korosif memerlukan bangunan penyimpan yang memiliki konstruksi dinding yang mudah dilepas untuk memudahkan keadaan darurat dan dibuat dari bahan konstruksi yang tahan api dan korosi.

  1. Pengumpulan dapat dilakukan dengan memenuhi persyaratan pada ketentuan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor: Kep-­01/Bapedal/09/1995 yang menitikberatkan pada ketentuan tentang karakteristik limbah, fasilitas laboratorium, perlengkapan penanggulangan kecelakaan, maupun lokasi.
  2. Kegiatan pengangkutan perlu dilengkapi dengan dokumen pengangkutan dan ketentuan teknis pengangkutan.

Mengenai pengangkutan limbah B3, Pemerintah Indonesia belum memiliki peraturan pengangkutan limbah B3 hingga tahun 2002. Peraturan pengangkutan yang menjadi acuan adalah peraturan pengangkutan di Amerika Serikat. Peraturan tersebut terkait dengan hal pemberian label, analisa karakter limbah, pengemasan khusus, dan sebagainya. Persyaratan yang harus dipenuhi kemasan di antaranya ialah apabila terjadi kecelakaan dalam kondisi pengangkutan yang normal, tidak terjadi kebocoran limbah ke lingkungan dalam jumlah yang berarti. Selain itu, kemasan harus memiliki kualitas yang cukup agar efektifitas kemasan tidak berkurang selama pengangkutan. Limbah gas yang mudah terbakar harus dilengkapi dengan head shields pada kemasannya sebagai pelindung dan tambahan pelindung panas untuk mencegah kenaikan suhu yang cepat. Di Amerika juga diperlakukan rute pengangkutan khusus selain juga adanya kewajiban kelengkapan Material Safety Data Sheets (MSDS) yang ada di setiap truk dan di dinas pemadam kebarakan.

  1. Upaya pemanfaatan dapat dilakukan melalui kegiatan daur ulang (recycle), perolehan kembali (recovery) dan penggunaan kembali (reuse) limbah B3 yang dlihasilkan ataupun bentuk pemanfaatan lainnya.
  2. Pengolahan limbah B3 dapat dilakukan dengan cara thermal, stabilisasi, solidifikasi secara fisika, kimia, maupun biologi dengan cara teknologi bersih atau ramah lingkungan.
  3. Kegiatan penimbunan limbah B3 wajib memenuhi persyaratan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999.

 

Beberapa metode penanganan limbah B3 yang umum diterapkan adalah sebagai berikut:

  1. Metode Pengolahan secara Kimia,

Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan tergantung jenis dan kadar limbahnya.

 

Proses pengolahan limbah B3 secara kimia yang umum dilakukan adalah stabilisasi/ solidifikasi. Stabilisasi/ solidifikasi adalah proses mengubah bentuk fisik dan/atau senyawa kimia dengan menambahkan bahan pengikat atau zat pereaksi tertentu untuk memperkecil/membatasi kelarutan, pergerakan, atau penyebaran daya racun limbah, sebelum dibuang. Definisi stabilisasi adalah proses pencampuran limbah dengan bahan tambahan dengan tujuan menurunkan laju migrasi bahan pencemar dari limbah serta untuk mengurangi toksisitas limbah tersebut. Solidifikasi didefinisikan sebagai proses pemadatan suatu bahan berbahaya dengan penambahan aditif. Kedua proses tersebut seringkali terkait sehingga sering dianggap mempunyai arti yang sama. Contoh bahan yang dapat digunakan untuk proses stabilisasi/solidifikasi adalah semen, kapur, dan bahan termoplastik.

 

Teknologi solidikasi/stabilisasi umumnya menggunakan semen, kapur (CaOH2), dan bahan termoplastik. Metoda yang diterapkan di lapangan ialah metoda in-drum mixing, in-situ mixing, dan plant mixing. Peraturan mengenai solidifikasi/stabilitasi diatur oleh BAPEDAL berdasarkan Kep-03/BAPEDAL/09/1995 dan Kep-04/BAPEDAL/09/1995.

solidifaction wasted

Gambar solidikasi/stabilisasi 

Apabila konsentrasi logam berat di dalam air limbah cukup tinggi, maka logam dapat dipisahkan dari limbah dengan jalan pengendapan menjadi bentuk hidroksidanya. Hal ini dilakukan dengan larutan kapur (Ca(OH)2) atau natrium hidroksida (NaOH) dengan memperhatikan kondisi pH akhir dari larutan. Pengendapan optimal akan terjadi pada kondisi pH dimana hidroksida logam tersebut mempunyai nilai kelarutan minimum. Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat diendapkan. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan membubuhkan larutan alkali misalnya air kapur, sehingga terbentuk endapan hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit.  Endapan logam tersebut akan lebih stabil jika pH air > 10,5 dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9,5.  Khusus untuk krom heksavalen, sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH)3], terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan reduktor (FeSO4, SO2, atau Na2S2O5).

 

Presipitasi adalah pengurangan bahan-bahan terlarut dengan cara menambahkan senyawa kimia tertentu yang larut dan dapat menyebabkan terbentuknya padatan. Dalam pengolahan air limbah, presipitasi digunakan untuk menghilangkan logam berat, sufat, fluoride, dan fosfat. Senyawa kimia yang biasa digunakan adalah lime, dikombinasikan dengan kalsium klorida, magnesium klorida, alumunium klorida, dan garam – garam besi. Adanya complexing agent, misalnya NTA (Nitrilo Triacetic Acid) atau EDTA (Ethylene Diamine Tetraacetic Acid), menyebabkan presipitasi tidak dapat terjadi. Oleh karena itu, kedua senyawa tersebut harus dihancurkan sebelum proses presipitasi akhir dari seluruh aliran, dengan penambahan garam besi dan polimer khusus atau gugus sulfida yang memiliki karakteristik pengendapan yang baik. Pengendapan fosfat, terutama pada limbah domestik, dilakukan untuk mencegah eutrophication dari permukaan. Presipitasi fosfat dari sewage dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu penambahan slaked lime, garam besi, atau garam alumunium.

 

Koagulasi dan Flokulasi digunakan untuk memisahkan padatan tersuspensi dari cairan jika kecepatan pengendapan secara alami padatan tersebut lambat atau tidak efisien. Proses koagulasi dan flokulasi adalah konversi dari polutan-polutan yang tersuspensi koloid yang sangat halus didalam air limbah, menjadi gumpalan-gumpalan yang dapat diendapkan, disaring, atau diapungkan.

 

Beberapa kelebihan proses pengolahan kimia antara lain dapat menangani hampir seluruh polutan anorganik, tidak terpengaruh oleh polutan yang beracun atau toksik, dan tidak tergantung pada perubahan konsentrasi. Pengolahan kimia dapat meningkatkan jumlah garam pada effluent, meningkatkan jumlah lumpur sehingga memerlukan bahan kimia tambahan akibatnya biaya pengolahan menjadi mahal.

 

  1. Metode Pengolahan secara Fisik

Sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan, dilakukan penyisihan terhadap bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau bahan-bahan yang terapung. Penyaringan atau screening merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan.  Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap.

 

Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation).

Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan untuk mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya, akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran yang dipergunakan dalam proses osmosa.

 

Proses adsorbsi, biasanya dengan karbon aktif, dilakukan untuk menyisihkan senyawa aromatik misalnya fenol dan senyawa organik terlarut lainnya, terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut.

 

Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil, terutama jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang diolah. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal.

 

Evaporasi pada umumnya dilakukan untuk menguapkan pelarut yang tercampur dalam limbah, sehingga pelarut terpisah dan dapat diisolasi kembali. Evaporasi didasarkan pada sifat pelarut yang memiliki titik didih yang berbeda dengan senyawa lainnya.

 

Metode insinerasi atau pembakaran dapat diterapkan untuk memperkecil volume limbah B3. Namun saat melakukan pembakaran perlu dilakukan pengendalian agar gas beracun hasil pembakaran tidak mencemari udara. Pengolahan secara insinerasi bertujuan untuk menghancurkan senyawa B3 yang terkandung di dalamnya menjadi senyawa yang tidak mengandung B3. Insinerator adalah alat untuk membakar sampah padat, terutama untuk mengolah limbah B3 yang perlu syarat teknis pengolahan dan hasil olahan yang sangat ketat. Ukuran, desain dan spesifikasi insinerator yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik dan jumlah limbah yang akan diolah. Insinerator dilengkapi dengan alat pencegah pencemar udara untuk memenuhi standar emisi.

 

Insinerasi mengurangi volume dan massa limbah hingga sekitar 90% (volume) dan 75% (berat). Teknologi ini bukan solusi terakhir dari sistem pengolahan limbah padat karena pada dasarnya hanya memindahkan limbah dari bentuk padat yang kasat mata ke bentuk gas yang tidak kasat mata. Proses insinerasi menghasilkan energi dalam bentuk panas.

 

Kelebihan metode pembakaran adalah metode ini merupakan metode hemat uang di bidang transportasi dan tidak menghasilkan jejak karbon yang dihasilkan transport seperti pembuangan darat. Menghilangkan 10% dari jumlah limbah cukup banyak membantu mengurangi beban tekanan pada tanah. Rencana pembakaran waste-to-energy (WTE) juga memberikan keuntungan yang besar dimana limbah normal maupun limbah B3 yang dibakar mampu menghasilkan listrik yang dapat berkontribusi pada penghematan ongkos. Pembakaran 250 ton limbah per hari dapat memproduksi 6.5 megawatt listrik sehari (berharga $3 juta per tahun).

 

Kerugian metode pembakaran adalah adanya biaya tambahan dalam pembangunan instalasi pembakaran limbah. Selain itu pembakaran limbah juga menghasilkan emisi gas yang memberikan efek rumah kaca.
Aspek penting dalam sistem insinerasi adalah nilai kandungan energi atau heating value limbah. Selain menentukan kemampuan dalam mempertahankan berlangsungnya proses pembakaran, heating value juga menentukan banyaknya energi yang dapat diperoleh dari sistem insinerasi. Jenis insinerator yang paling umum diterapkan untuk membakar limbah padat B3 ialah rotary kiln, multiple hearth, fluidized bed, open pit, single chamber, multiple chamber, aqueous waste injection, dan starved air unit. Dari semua jenis insinerator tersebut, rotary kiln mempunyai kelebihan karena alat tersebut dapat mengolah limbah padat, cair, dan gas secara simultan.

 

  1. Metode Pengolahan secara Biologi

Proses pengolahan limbah B3 secara biologi yang berkembang dewasa saat ini dikenal dengan istilah bioremediasi dan fitoremediasi. Bioremediasi adalah penggunaan bakteri dan mikroorganisme lain untuk mendegradasi/ mengurai limbah B3. Sedangkan fitoremediasi adalah penggunaan tumbuhan untuk mengabsorbsi dan mengakumulasi bahan-bahan beracun dari tanah. Kedua proses ini sangat bermanfaat dalam mengatasi pencemaran oleh limbah B3 dan biaya yang diperlukan lebih murah dibandingkan metode kimia atau fisik. Namun, proses ini juga masih memiliki kelemahan. Proses bioremediasi dan fitoremediasi merupakan proses alami sehingga membutuhkan waktu yang relatif lama untuk membersihkan limbah B3, terutama dalam skala besar. Selain itu, karena menggunakan makhluk hidup, proses ini dikhawatirkan dapat membawa senyawa-senyawa beracun ke dalam rantai makanan di dalam ekosistem.

 

Metode Pembuangan Limbah B3

  1. Sumur dalam atau sumur injeksi (deep well injection)

Salah satu cara membuang limbah B3 agar tidak membahayakan manusia adalah dengan memompakan limbah tersebut melalui pipa ke lapisan batuan yang dalam, di bawah lapisan-lapisan air tanah dangkal maupun air tanah dalam. Secara teori, limbah B3 ini akan terperangkap di lapisan itu sehingga tidak akan mencemari tanah maupun air.

deepwell

Gambar Sumur Injection

Pembuangan limbah B3 melalui metode ini masih mejadi kontroversi dan masih diperlukan pengkajian yang integral terhadap dampak yang mungkin ditimbulkan. Data menunjukkan bahwa pembuatan sumur injeksi di Amerika Serikat paling banyak dilakukan antara tahun 1965-1974 dan hampir tidak ada sumur baru yang dibangun setelah tahun 1980.

 

Pembuangan limbah ke sumur dalam merupakan suatu usaha membuang limbah B3 ke dalam formasi geologi yang berada jauh di bawah permukaan bumi yang memiliki kemampuan mengikat limbah, sama halnya formasi tersebut memiliki kemampuan menyimpan cadangan minyak dan gas bumi. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pemilihan tempat ialah strktur dan kestabilan geologi serta hidrogeologi wilayah setempat.

 

  1. Kolam penyimpanan atau Surface Impoundments

Limbah B3 cair dapat ditampung pada kolam-kolam yang diperuntukkan khusus bagi limbah B3. Kolam-kolam ini dilapisi lapisan pelindung yang dapat mencegah perembesan limbah. Ketika air limbah menguap, senyawa B3 akan terkonsentrasi dan mengendap di dasar. Kelemahan metode ini adalah memakan lahan karena limbah akan semakin tertimbun dalam kolam, ada kemungkinan kebocoran lapisan pelindung, dan ikut menguapnya senyawa B3 bersama air limbah sehingga mencemari udara.

 

  1. Landfill untuk limbah B3 atau Secure Landfills

Limbah B3 dapat ditimbun pada landfill, namun harus dengan pengamanan tingkat tinggi. Pada metode pembuangan secure landfill, limbah B3 dimasukkan kedalam drum atau tong-tong, kemudian dikubur dalam landfill yang didesain khusus untuk mencegah pencemaran limbah B3. Landfill harus dilengkapi peralatan monitoring yang lengkap untuk mengontrol kondisi limbah B3 dan harus selalu dipantau. Metode ini jika diterapkan dengan benar dapat menjadi cara penanganan limbah B3 yang efektif. Metode secure landfill merupakan metode yang memiliki biaya operasi tinggi, masih ada kemungkinan terjadi kebocoran, dan tidak memberikan solusi jangka panjang karena limbah akan semakin menumpuk.

Limbah Industri

Kelola Limbah Industri dengan Benar

Jika bicara limbah industri memang merupakan masalah yang belum terselesaikan. Limbah-limbah industri pabrik kadang memberikan persoalan baru. Lihat saja limbah di pabrik gula, seperti bagas, molases, blotong, dan abu ketel akan memberikan persoalan baru jika tidak ditangani dengan baik.

limbah industri

Beruntung, kajian pemanfaatan limbah industri di pabrik gula sudah banyak. Produk hasil rekayasa limbahnya pun sudah beragam. Mulai dari pupuk sebagai pengganti pupuk kimia, peralatan automotif, pakan ternak, MSG, energi, bioetanol, hingga biomassa.

Cara pengolahan limbah menjadi barang industri merupakan hal yang menunjukkan titik terang tentang mengelola limbah industri yang belum ada solusinya. Ini merupakan salah satu solusi yang bisa diandalkan karena memiliki banyak manfaat, siantaranya adalah menghasilkan produk baru yang bermanfaat, khusunya untuk lingkungan sekitar kita.

Dampak Limbah Industri untuk Lingkungan

Limbah industri banyak menyaabkan hal – hal yang tidak diinginkan misalnya Ada berbagai kemungkinan yang dapat menjadi penyebab timbulnya pencemaran limbah itu bisa karena kelengahan kita, suatu misal terjadinya kebocoran pipa pada saluran air kotor menuju bak penampungan atau septic tank yang tanpa sepengetahuan kita menyebabkan sumber air bersih dalam tanah ikut tercemar karenanya.

Kemungkinan yang terparah bila semuanya disebabkan karena adanya unsur kesengajaan dari pihak yang tak bertanggungjawab. Bisa jadi karena alasan – alasan tertentu seperti kecilnya kesadaran diri akan menjaga lingkungan menyebabkan sebagian pihak merasa tak apa dan bukan hal yang besar bila limbah tersebut dibiarkan atau dibuang ke tempat yang salah.

Dampak Pencemaran Limbah B3 dari Industri dan Rumah Tangga
Limbah berbahaya yang dampak pencemaran-nya mampu mematikan makhluk hidup harus sangat kita waspadai juga. Suatu contoh limbah dari industri tinta, industri kertas, industri tekstil, industri kimia hingga industry farmasi yang menghasilkan mercury, air raksa, hargentum bila tak cermat dalam menangani limbah B3 ini dapat menimbulkan terjadinya masalah kesehatan seperti mengakibatkan efek toksisitas pada susunan saraf pusat dan ginjal, merusak sistem pernafasan, pencernaan makanan hingga jaringan paru – paru. Pada ibu hamil dan bayi efeknya pun sangat besar, limbah B3 ini dapat mengganggu pertumbuhan janin dan bayi. Dampak lain dari berbagai limbah B3 yang dihasilkan oleh industri maupun rumah tangga diantaranya :
• Limbah tembaga yang dihasilkan dari industri kawat, pelapisan logam maupun dair tukang pengrajin logam yang menggunakan tembaga dapat mengganggu peredaran darah, mutah, diare, kram perut dan mual apabila meminum air yang telah terkontaminasi dengan unsur tembaga yang terlalu tinggi.
• Limbah Timah Hitam (Pb) yang dihasilkan dari industri plastik, industri percetakan, industri peleburan timah, industri karet, industri baterai, kendaraan bermotor, industri cat, tambang timah dan sebagainya dampak pencemaran-nya menganggu kesehatan tubuh yang diantaranya menimbulkan gangguan pada saraf perifer dan sentral, gangguan metabolisme Vitamin D dan Kalsium sebagai unsur pembentuk tulang, gangguan ginjal secara kronis, dapat menembus placenta sehingga mempengaruhi pertumbuhan janin.

Pengelolaan Limbah Industri

Pengelolaan limbah industri membawa keuntungan tersendiri

Seperti yang kita tahu, limbah merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan pencemaran, tetapi jika limbah industri dikelola secara baik dan benar maka akan mendatangkan keuntungan. Dikutip dari merdeka.com, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mendesak para pelaku industri agar lebih sensitif dalam menangani masalah limbah industri. Limbah industri yang dikelola dengan baik akan menghasilkan keuntungan.
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengolah limbah industri, diantaranya adalah sebagai berikut:

limbah industri
Mengolah limbah industri menjadi barang baru yang layak dijual
Terdapat beberapa limbah industri yang masih bisa diolah kembali menjadi barang baru yang layak dijual. Dalam hal ini contohnya adalah limbah kayu industri furniture yang masih bisa dimanfaatkan untuk membuat aneka kerajinan tangan yang memiliki nilai jual sehingga selain bisa menyerap tenaga kerja juga bisa menambah penghasilan.
Mengolah supaya layak konsumsi
Cara ini berlaku untuk limbah industri cair. Pihak pemerintah telah menerapkan prosedur pengolahan limbah cair supaya tidak mencemari sumur warga. Di beberapa perusahaan besar telah menerapkan sistem pengelolaan limbah cair yang dihasilkan menjadi air bersih yang layak dikonsumsi.
Mendaur ulang
Cara mendaur ulang adalah cara yang paling sering dilakukan beberapa jenis limbah industri yang non organik atau limbah yang tidak bisa terurai oleh alam perlu dilakukan proses daur ulang. Limbah industry berbahan plastik dan kertas adalah contoh jenis limbah industry yang bisa didaur ulang untuk dijadikan sebuah produk.
Diolah menggunakan bakteri pengolah limbah
Proses ini dilakukan dengan memanfaatkan bakteri aerob yang banyak terdapat di udara. Memberikan bak penampungan limbah di udara terbuka sehingga bakteri aerob bisa mengoksidasi limbah industri.
Proses pengolahan limbah industri terdiri dari banyak proses diantaranya adalah proses fisika, kimia dan biologi. Proses fisika-kimia adalah proses yang menuntut perlakuan sesuai unsur yang terkandung di dalamnya. Proses ini biasanya menggunakan penyaringan, katalisator dan pengendapan dalam sistemnya untuk menghasilkan buangan yang lebih bersih. Sedangkan untuk proses pengolahan limbah secara biologi adalah mengguanakan mahluk hidup sebagai pengurainya.

© 2018: LPLHI - KLHI | GREEN EYE Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress