May, 2013

now browsing by month

 

Pengurus LPLHI-KLHI Prov. Kalteng

DSCF2340

Lintas Alam at 19 Juni 2013

Ikutilah Lintas Alam Yang Akan Diselenggarakan Pada :
Tanggal : 19 Juni 2013
Hari : Rabu

Dengan Rute
Start & Finish : Situ Gede

Peserta :
UMUM dan Pelajar ( SMP – SMA/SMK )

Waktu Dan Pendaftaran :
Dibuka   : 30 Mei
Ditutup  : 15 Juni

Contact Person :
Kantor Sekretariatan (0265) 346974
Jl. Ah Nasution No. 195 Depan Perum Kacapi. Mangkubumi, Tasikmalaya
A.n Budi Yudiana No.HP : 087 725 320 002
A.n Asep Dian No. Hp : 085 223 707 561
A.n Wildan L 085 223 707 561

Keterangan :
* 1 Regu Terdiri Dari 5 Orang
* Biaya Pendaftaran Rp.50.000

Indonesia Berperan Dalam Pertemuan Internasional Tentang Pengaturan Pergerakan Limbah B3 dan B3

Konvensi Basel, Konvensi Rotterdam dan Konvensi Stockholm (tiga Konvensi B3 dalam satu pertemuan Internasional). Jenewa Swiss, 10 Mei 2013 United Nations of Environment Programme (UNEP) menyelenggarakan Pertemuan bertajuk “Ordinary and Extraordinary Meetings of the Conferences of the Parties of the Basel Convention, Rotterdam Convention and Stockholm Convention”. Pertemuan 3 Konvensi ini diawali dengan pertemuan Senior Read More…

Konvensi Basel, Konvensi Rotterdam dan Konvensi Stockholm (tiga Konvensi B3 dalam satu pertemuan Internasional).

Jenewa Swiss, 10 Mei 2013 United Nations of Environment Programme (UNEP) menyelenggarakan Pertemuan bertajuk “Ordinary and Extraordinary Meetings of the Conferences of the Parties of the Basel Convention, Rotterdam Convention and Stockholm Convention”. Pertemuan 3 Konvensi ini diawali dengan pertemuan Senior Official Meeting yang dimulai pada tanggal 28 April 2013 dan diakhiri dengan dengan High Level Segment (HLS) pada tanggal 9-10 Mei 2013 yang dihadiri para menteri.
Kementerian Lingkungan Hidup yang menjadi focal point Republik Indonesia dalam Konvensi ini berperan aktif dalam pertemuan yang fokus pada pergerakan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracu (Limbah!B3) dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Tiga konvensi yang disinergikan menjadi satu pertemuan ini merupakan tindak lanjut inisiatif Indonesia pada pertemuan ExCOPs pertama di Nusa Dua, Bali pada Februari 2010. Pengaturan ke tiga Konvensi ini adalah:
1. Konvensi Basel tentang ekspor dan impor limbah B3 (transboundary of hazardous waste) dan pengelolaannya,
2. Konvensi Rotterdam tentang informasi ekspor dan impor bahan kimia berbahaya dan beracun,
3. Konvensi Stockholm tentang Persistant Organic Polutant yang dilarang digunakan, terbatas digunakan.
Indonesia perlu berperan aktif dalam mendukung 3 konvensi ini mengingat:
• Indonesia sebagai negara kepulauan di jalur pelayaran dunia sangat rentan terhadap datangnya limbah dan sumber pencemar lainnya. Selain kesulitan atas pengawasan barang illegal, keberadaan sekitar 17.000 pulau akan mengundang banyak negara untuk membuang limbahnya ke Indonesia.
• Perlu upaya mengurangi dampak negatif dari perdagangan dan pergerakan bahan kimia yang jika tidak diatur, memiliki resiko mengganggu kesehatan dan lingkungan hidup. Khusus untuk mencegah Indonesia dijadikan tempat “dumping” senyawa kimia yang berbahaya dan beracun yang dilarang digunakan dari negara maju.
Manfaat yang diterima Indonesia dalam ketiga konvensi tersebut! adalah (i) menggalang kerja sama internasional (ii) akses pertukaran informasi mengenai pergerakan! bahan kimia dan pestisida berbahaya, dan Limbah B3 yang dilarang dan yang dibatasi (iii) peluang kerja sama pendanaan dan alih teknologi untuk pengembangan infrastruktur dan kapasitas pelaksanaan konvensi (iv) mempunyai acuan yang jelas jika terjadi sengketa antar negara. Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA, hadir dalam pertemuan ini. Eksistensi dari kehadiran Menteri Lingkungan Hidup RI dalam upaya:
1. Mempertegas posisi Indonesia terhadap kesepakatan dalam Deklarasi Rio pada Bab XIX Agenda 21 tentang Pengelolaan Bahan Kimia Beracun yang berwawasan Lingkungan termasuk pencegahan lalu lintas internasional yang ilegal dari produk bahan kimia berbahaya dan beracun
2. Menunjukkan keseriusan negara Indonesia dalam hal pengelolaan limbah B3 dan B3 baik di tingkat nasional maupun internasional
3. Menunjukkan dukungan atas upaya sinergi untuk meningkatkan kerja sama dan koordinasi di antara Konvensi Basel, Rotterdam dan Stockholm pada tingkat nasional, regional dan internasional.
4. Menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam hal inisiator untuk mengefektifkan konvensi Basel bersama negara Swiss melalui Indonesia Swiss Country Led Initiative agar Konvensi Basel khususnya dalam pelaksanaan “band!amandement” dapat memperkuat kontrol internasional terhadap transboundary ‘movement’ of’ hazardous’ waste dan environmentally ‘sound’ management.
Dalam Forum para Menteri, Menteri Lingkungan Hidup RI, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA menyampaikan “Indonesia telah sampai di’ akhir proses ratifikasi Konvensi Rotterdam yang sudah mendapat persetujuan parlemen. Kami sangat berkomitmen mencegah dampak negatif’ pergerakan limbah B3 dan B3 ke Indonesia, tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga untuk industri di Indonesia dan masyarakatnya dari peredaran limbah B3 dan B3 illegal dari negara lain”.
Beliau juga menyampaikan perlunya (i) mempromosikan pengelolaan yang ramah lingkungan dalam penggunaan B3 dan sesedikit mungkin menghasilkan limbah B3 di tingkat nasional, regional dan internasional dan, serta (ii) penggunaan sumber daya yang ada secara efektif melalui koordinasi yang lebih baik di antara semua pemangku kepentingan berurusan dengan bahan kimia dan limbah B3 dalam rangka meningkatkan sinergi. “Saya sangat percaya bahwa penting untuk memiliki suatu mekanisme yang dapat melindungi negara-negara rentan serta memastikan pengelolaan bahan berbahaya beracun dan limbah B3 yang ramah lingkungan, dengan mempertimbangkan tren global seperti perkembangan teknologi untuk pemulihan sumber daya, pelaksanaan 3R, peningkatan kapasitas termasuk sumber daya keuangan”
Di dalam rangkaian pertemuan ini, Menteri Lingkungan Hidup RI dan Menteri Lingkungan Hidup, Transportasi, Energi dan Komunikasi Swiss, Ms. Doris Leuthard menyelenggarakan jamuan makan malam tingkat menteri untuk menandai kemajuan yang telah dicapai dalam proses Country Lead Initiative antar ke dua negara ini.

(sources : Kementrian LingkunganHidup)

Pemanfaatan dan Kerusakan Sumber Daya Alam

Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Letak geografis Indonesia sangat strategis, terletak diantara dua benua yaitu benua Asia dan Australia dan di antara dua samudera, yaitu samudera Hindia dan Pasifik. Posisi geografis tersebut menunjukkan betapa kaya Indonesia akan sumber daya alam dengan segala flora, fauna dan potensi hidrografis dan deposit sumber alamnya yang melimpah. Misalnya sumber daya alam yang berasal dari pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, peternakan, perkebunan serta pertambangan dan energi. Read More…

Pertanian dan perkebunan

Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduk Indonesia mempunyai pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa negara ini memiliki lahan seluas lebih dari 31 juta ha yang telah siap tanam atau sekitar 82, 71 % dari seluruh luas lahan, dimana sebagian besarnya dapat ditemukan di Pulau Jawa. Penyebaran produksi padi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa sehubungan dengan tingginya produktivitas dan luas panen dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. Pertanian di Indonesia menghasilkan berbagai macam tumbuhan komoditi ekspor, antara lain padi, jagung, kedelai, sayur-sayuran, cabai, ubi, dan singkong. Sedangkan produksi holtikultura jenis buah-buahan meliputi mangga, durian, jeruk, pisang, pepaya dan salak.

Di samping itu, Indonesia juga dikenal dengan hasil perkebunannya, berdasarkan usia tanaman, perkebunan di Indonesia dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu tanaman semusim (tebu, tembakau, kapas, jarak, sereh wangi, nilam dan rami) dan tanaman tahunan (karet, kelapa, kopi, kelapa sawit, cengkeh, pala, kayu manis, panili, kemiri, pinang, asam jawa, siwalan, nipah, kelapa deres, aren dan sagu). Sebagian besar budidaya perkebunan berupa tanaman tahunan.

Selain itu, sumber daya hayati untuk bahan pangan misalnya Kedelai untuk membuat kecap, tahu, dan tempe, Gandum untuk membuat roti, Ayam dan bebek diambil telur dan dagingnya, Sapi dan kambing diambil daging dan susunya. Untuk Bahan Sandang misalnya Serat kapas untuk membuat kain katun, Serat kepompong ulat sutera untuk membuat kain sutera, dan Bulu domba untuk membuat kain wol. Untuk Peralatan Rumah Tangga misalnya Kayu jati dan rotan untuk membuat kursi, Kayu mahoni, sengon, dan lainya untuk membuat perabotan rumah tangga. Untuk Obat Tradisional dan Produk Perawatan Tubuh misalnya Mengkudu untuk menurunkan tekanan darah tinggi, Lidah buaya untuk membuat sampo, dan Alang-alang untuk obat panas dalam. Untuk Alat-alat Olahraga misalnya Bulu angsa untuk membuat kok, dan Rotan untuk membuat holahop dan bola takraw

hutan

 

 

 

 

 

Hutan

Berdasarkan fungsinya, hutan Indonesia dibagi menjadi empat jenis, yaitu hutan lindung, hutan produksi, hutan suaka alam, dan hutan wisata. Produksi kehutanan berupa kayu hutan, baik kayu bulat, kayu gergajian maupun kayu lapis. Dari hasil hutan tersebut, yang saat ini menjadi produk andalan Indonesia untuk kegiatan ekspor adalah kayu lapis.

Hewan, peternakan, dan perikanan

Sumber daya alam hewan dapat berupa hewan liar maupun hewan yang sudah dibudidayakan. Pemanfaatannya dapat sebagai pembantu pekerjaan berat manusia, seperti kerbau dan kuda atau sebagai sumber bahan pangan, seperti unggas dan sapi. Untuk menjaga keberlanjutannya, terutama untuk satwa langka, pelestarian secara in situ dan ex situ terkadang harus dilaksanakan. Pelestarian in situ adalah pelestarian yang dilakukan di habitat asalnya, sedangkan pelestarian ex situ adalah pelestarian dengan memindahkan hewan tersebut dari habitatnya ke tempat lain. Untuk memaksimalkan potensinya, manusia membangun sistem peternakan, dan juga perikanan, untuk lebih memberdayakan sumber daya hewan.

Populasi peternakan di Indonesia terdiri atas populasi ternak besar seperti, sapi perah, sapi potong, kerbau, dan kuda. Populasi ternak kecil meliputi: kambing, domba, dan babi. Sementara populasi ternak unggas terdiri dari ayam kampung, ayam ras petelur, ayam ras pedaging dan itik. Diantara hasil ternak yang saat ini memiliki prospek ekspor adalah kulit olahan (disamak).

Pada umumnya wilayah persebaran fauna di Indonesia dibagi 3 wilayah yaitu wilayah Indonesia bagian Barat, Indonesia bagian Tengah, Indonesia bagian Timur. Ketiganya di batasi oleh Wallace dan garis Weber. Bagian Barat lebih cenderung mengikuti ragam hewan Asia, sednagkan bagian Timur mengikuti ragam hewan Australia. Ciri-ciri kasus hewan Indonesia terdapat pada wilayah bagian Tengah

Sumber daya alam nonhayati ialah sumber daya alam yang dapat diusahakan kembali keberadaannya dan dapat dimanfaatkan secara terus-menerus, contohnya: laut, angin, sinar matahari, dan hasil tambang.

Laut

Air merupakan salah satu kebutuhan utama makhluk hidup dan bumi sendiri didominasi oleh wilayah perairan. Dari total wilayah perairan yang ada, 97% merupakan air asin (wilayah laut, samudra, dll.) dan hanya 3% yang merupakan air tawar (wilayah sungai, danau, dll.). Fakta fisik bahwa dua per tiga wilayah Indonesia berupa laut, maka sumber daya alam di laut memiliki potensi yang sangat besar. Selain mengandung minyak, gas, mineral dan energi laut non-konvesional, serta harta karun yang sudah mulai digali meskipun masih terbatas, laut juga menghasilkan ikan yang potensi lestarinya diperkirakan sebesar 6, 4 juta ton per tahun. Saat ini yang baru dimanfaatkan sekitar 70 %. Pengembangan sumber daya kelautan dan perikanan dikelompokkan dalam lima industri kelautan, yaitu industri perikanan, industri mineraldan energi laut, industri maritim, termasuk industri galangan kapal, industri pelayaran (transportasi laut) dan industri pariwisata (wisata bahari dan kawasan konservasi). Saat ini yang menjadi andalan ekspor perikanan Indonesia adalah udang dan Tuna.

Seiring dengan pertumbuhan populasi manusia, kebutuhan akan air, baik itu untuk keperluan domestik dan energi, terus meningkat. Air juga digunakan untuk pengairan, bahan dasar industri minuman, penambangan, dan aset rekreasi. Di bidang energi, teknologi penggunaan air sebagai sumber listrik sebagai pengganti dari minyak bumi telah dan akan terus berkembang karena selain terbaharukan, energi yang dihasilkan dari air cenderung tidak berpolusi dan hal ini akan mengurangi efek rumah kaca.

Angin

Pada era ini, penggunaan minyak bumi, batu bara, dan berbagai jenis bahan bakar hasil tambang mulai digantikan dengan penggunaan energi yang dihasilkan oleh angin. Angin mampu menghasilkan energi dengan menggunakan turbin yang pada umumnya diletakkan dengan ketinggian lebih dari 30 meter di daerah dataran tinggi. Selain sumbernya yang terbaharukan dan selalu ada, energi yang dihasilkan angin jauh lebih bersih dari residu yang dihasilkan oleh bahan bakar lain pada umumnya. Beberapa negara yang telah mengaplikasikan turbin angin sebagai sumber energi alternatif adalah Belanda dan Inggris.

Tanah

Tanah termasuk salah satu sumber daya alam nonhayati yang penting untuk menunjang pertumbuhan penduduk dan sebagai sumber makanan bagi berbagai jenis makhluk hidup. Pertumbuhan tanaman pertanian dan perkebunan secara langsung terkait dengan tingkat kesuburan dan kualitas tanah. Tanah tersusun atas beberapa komponen, seperti udara, air, mineral, dan senyawa organik. Pengelolaan sumber daya nonhayati ini menjadi sangat penting mengingat pesatnya pertambahan penduduk dunia dan kondisi cemaran lingkungan yang ada sekarang ini.

Hasil tambang

Sumber daya alam hasil penambangan memiliki beragam fungsi bagi kehidupan manusia, seperti bahan dasar infrastruktur, kendaraan bermotor, sumber energi, maupun sebagai perhiasan. Pertambangan dan energi diharapkan menjadi primadona sumber penerimaan devisa, khususnya dari pendapatan ekspor minyak dan gas. Dua komoditi tambang tersebut kuantitasnya sangat mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia, sehingga sering digunakan sebagai asumsi dasar dalam perencanaan APBN. Energi listrik sebagian besar masih diproduksi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), sedangkan sisanya oleh perusahaan-perusahaan yang dikelola Pemerintah Daerah, koperasi, atau perusahaan swasta lainnya. Pemerintah juga menggali sumber-sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan kepada BBM. Sumber energi aternatif yang dimiliki dalam jumbal besar adalah gas, batubara, tenaga hidro, panas bumi, dan tenaga surya. Energi alternatif yang saat ini tengah digarap pemrintah adalah energi berbasis nabati atau biofuel dengan bahan dasar tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, tebu, singkong, dan jarak.

Sumber daya alam dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan tidak dapat diperbaharui. Sumber daya alam yang dapat diperbaharui adalah sumber daya alam yang mudah diadakan kembali jika habis.

Berbagai jenis bahan hasil galian memiliki nilai ekonomi yang besar dan hal ini memicu eksploitasi sumber daya alam tersebut. Beberapa negara, seperti Indonesia dan Arab, memiliki pendapatan yang sangat besar dari sektor ini. Jumlahnya sangat terbatas, oleh karena itu penggunaannya harus dilakukan secara efisein. Beberapa contoh bahan tambang dan pemanfaatannya.

Minyak Bumi berasal dari mikroplankton yang terdapat di danau-danau, teluk-teluk, rawa-rawa, dan laut dangkal setelah mati mikroplakton berjatuhan dan mengendap di dasar laut kemudian bercampur dengan sedimen. Akibat tekanan lapisan-lapisan atas dan pengaruh panas magma dan terjadilah proses destilasi hingga menjadi minyak bumi kasar. Beberapa manfaat minyak bumi:

• Avtur untuk bahan bakar pesawat terbang;
• Bensin untuk bahan bakar kendaraan bermotor;
• Minyak Tanah untuk bahan baku lampu minyak;
• Solar untuk bahan bakar kendaraan diesel;
• LNG (Liquid Natural Gas) untuk bahan bakar kompor gas;
• Oli bahan untuk pelumas mesin;
• Vaselin ialah salep untuk bahan obat;
• Parafin untuk bahan pembuat lilin; dan
• Aspal untuk bahan pembuat jalan (dihasilkan di Pulau Buton)

 

Daerah-daerah penghasil minyak bumi di Indonesia adalah sebagai berikut:

1)      Pulau jawa: Cepu, Cirebon, dan Wonokerto.
2)      Pulau Sumatra: Palembang dan Jambi.
3)      Pulau Kalimantan: Pulau Tarakan, pulau Bunyu, dan Kutai.
4)      Pulau Irian Jaya: Sorong.

Batu bara terbentuk dari tumbuhan yang tertimbun hingga berada dalam lapisan batu-batuan sediman yang lain. Proses pembentukan batu bara disebut inkolent yang terbagi menjadi dua yaitu proses biokimia dan proses metamorfosis. Batu Bara dimanfaatkan untuk bahan bakar industri dan rumah tangga. Daerah tambang batu bara di Indonesia adalah sebagai berikut Ombilin: dekat Sawahlunto (Sumatra Barat),
Bukit asam: dekat Tanjung Enin (Palembang),
Kalimantan Barat, Kalimantan Timur,
Kalimantan Selatan (pulau laut/sebuku),
dan Jambi, Riau, Aceh, dan Papua.

Biji Besi Untuk peralatan rumah tangga, pertanian dan lain-lain. Tembaga merupakan jenis logam yang berwarna kekuning-kuningan, lunak dan mudah ditempa. Bauksit Sebagai bahan dasar pembuatan alumunium. Emas dan Perak untuk perhiasan. Marmer Untuk bahan bangunan rumah atau gedung. Belerang Untuk bahan obat penyakit kulit dan korek api.Yodium Untuk obat dan peramu garam dapur beryodium. Nikel Untuk bahan pelapis besi agar tidak mudah berkarat. Gas Alam Untuk bahan bakar kompor gas. Mangaan Untuk pembuatan pembuatan besi baja. Grafit Bermanfaat untuk membuat pensil, dan bahan pembuatan baterai

Walaupun berbagai potensi tersebut tersebar di wilayah Indonesia, namun kita masih mengalami hambatan dalam proses pengelolaan dan pemanfaatan Sumber Daya Alam.

Berikut ini beberapa hambatan umum yang dihadapi Indonesia dalam pengelolaan dan pemanfaatan Sumber Daya Alam yaitu:

  1. Kurangnya tenaga ahli dalam bidang Sumber Daya Alam
  2. Mahalnya sarana prasarana untuk pengelolaan Sumber Daya Ala
  3. Kerjasama dengan perusahaan asing yang merugikan
  4. Transportasi ke Daerah Sumber Daya Alam terbatas mengingat Indonesia merupakan kepulauan.
  5. Sumber daya manusia yang belum memenuhi klasifikasi
  6. Belum optimalnya upaya konservasi, rehabilitasi dan penghematan penggunaan sumber daya alam
  7. Kurangnya sumur pemantau untuk memonitor kondisi permukaan air
  8. Tidak adanya penegakan hukum yang tegas dan konsisten dalam penggunaan air tanah
  9. Kurangnya pasokan air bersih dan penggunaan air tanah yang kurang terkontrol
  10. Koordinasi instansi terkait yang masih belum baik dalam pengelolaan jaringan utilitas bawah tanah
  11. Pengelolaan daerah resapan air masih kurang baik.
  12. Belum memadainya Perda Pertambangan dan Energi untuk mendukung kelancaran tugas dan fungsi di lapangan
  13. Data dan informasi geologi belum memadai dalam perencanaan Tata Ruang.

kebakaran

IV. Kerusakan Sumber Daya Alam

Bentuk-Bentuk Kerusakan Sumber Daya Alam Sebagai Berikut:

1.      Pertanian dan Perikanan

Contoh:

Terus menurunnya kondisi hutan Indonesia.

Hutan merupakan salah satu sumber daya yang penting, tidak hanya dalam menunjang perekonomian nasional tetapi juga dalam menjaga daya dukung lingkungan terhadap keseimbangan ekosistem dunia. Indonesia merupakan negara dengan luas hutan terbesar dibanding dengan negara ASEAN lainnya. Namun, bersama Filipina, Indonesia memiliki laju deforestasi tertinggi. Laju deforestasi yang pada periode 1985-1997 adalah 1,6 juta hektar per tahun meningkat menjadi 2,1 juta hektar per tahun pada periode 1997-2001. Salah satu akibatnya jumlah satwa Indonesia yang terancam punah tertinggi dibandingkan negara ASEAN lainnya.

illegal loging

B.     Kerusakan DAS (Daerah Aliran Sungai).

Praktik penebangan liar dan konversi lahan menimbulkan dampak yang luas, yaitu kerusakan ekosistem dalam tatanan DAS. Akibatnya, DAS berkondisi kritis meningkat dari yang semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi berturut-turut sebesar 39 dan 62 DAS pada tahun 1992 dan 1998. Pada saat ini diperkirakan sekitar 282 DAS dalam kondisi kritis. Kerusakan DAS tersebut juga dipacu oleh pengelolaan DAS yang kurang terkoordinasi antara hulu dan hilir serta kelembagaan yang masih lemah. Hal ini akan mengancam keseimbangan ekosistem secara luas, khususnya cadangan dan pasokan air yang sangat dibutuhkan untuk irigasi, pertanian, industri, dan konsumsi rumah tangga.

Habitat ekosistem pesisir dan laut semakin rusak.

Kerusakan habitat ekosistem di wilayah pesisir dan laut semakin meningkat, khususnya di wilayah padat kegiatan seperti pantai utara Pulau Jawa dan pantai timur Pulau Sumatera. Rusaknya habitat ekosistem pesisir seperti deforestasi hutan mangrove serta terjadinya degradasi sebagian besar terumbu karang dan padang lamun telah mengakibatkan erosi pantai dan berkurangnya keanekaragaman hayati (biodiversity). Erosi ini juga diperburuk oleh perencanaan tata ruang dan pengembangan wilayah yang kurang tepat. Beberapa kegiatan yang diduga sebagai penyebab terjadinya erosi pantai, antara lain pengambilan pasir laut untuk reklamasi pantai, pembangunan hotel, dan kegiatan-kegiatan lain yang bertujuan untuk memanfaatkan pantai dan perairannya. Sementara itu, laju sedimentasi yang merusak perairan pesisir juga terus meningkat. Beberapa muara sungai di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa mengalami pendangkalan yang cepat, akibat tingginya laju sedimentasi yang disebabkan oleh kegiatan di lahan atas yang tidak dilakukan dengan benar, bahkan mengabaikan asas konservasi tanah. Di samping itu, tingkat pencemaran di beberapa kawasan pesisir dan laut juga berada pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber utama pencemaran pesisir dan laut terutama berasal dari darat, yaitu kegiatan industri, rumah tangga, dan pertanian. Sumber pencemaran juga berasal dari berbagai kegiatan di laut, terutama dari kegiatan perhubungan laut dan kapal pengangkut minyak serta kegiatan pertambangan. Sementara praktik-praktik penangkapan ikan yang merusak dan ilegal (illegal fishing)serta penambangan terumbu karang masih terjadi dimana-mana yang memperparah kondisi
habitat ekosistem pesisir dan laut.
laut

2.      Teknologi dan Industri

Perkembangan teknologi yang pesat akan mempercepat dalam mempermudah manusia dalam mengolah alam. Pemanfaatan teknologi yang tidak tepat dan tidak sesuai dapat mengubah lingkungan menjadi buruk. Contoh traktor dapat mempermudah dan mempercepat dalam membajak sawah. Namun, disisi lain traktor juga membawa dampak negatif. Traktor membawa buangan oli, bahan bakar, dan sebagainya yang dapat merusak lingkungan.

lembah
3.     
Pencemaran

Pencemaran dapat menimbulkan gangguan ringan dan berat terhadap mutu lingkungan hidup manusia. Jenis-jenis pencemaran ada empan yaitu pencemaran udara, air, tanah, dan suara. Di Negara maju pembuangan rongsokan mobil dan barang yang tidak terpakai menjadi masalah. Misalnya, benda yang dibuang dan dibakar menyebabkan terjadinya pencemaran udara sehingga kadar CO2 di udara tinggi, sedangkan partikel-partikel halus dalam asap akan memberikan pengaruh buruk. Dewasa ini kadar CO2 di dunia mengalami kenaikan 20 %. Hal tersebut di duga menjadi penyebab kenaikan suhu dimuka bumi.

Kualitas udara, khususnya di kota-kota besar, semakin menurun. Kualitas udara di 10 kota besar Indonesia cukup mengkhawatirkan, dan di enam kota diantaranya, yaitu Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Jambi, dan Pekan Baru dalam satu tahun hanya dinikmati udara bersih selama 22 sampai 62 hari saja. Senyawa yang perlu mendapat perhatian serius adalah partikulat (PM10), karbon monoksida (CO), dan nitrogen oksida (NOx). Pencemaran udara utamanya disebabkan oleh gas buang kendaraan dan industri, kebakaran hutan, dan kurangnya tutupan hijau di perkotaan. Hal ini juga diperburuk oleh kualitas atmosfer global yang menurun karena rusaknya lapisan ozon di stratosfer akibat akumulasi senyawa kimia seperti chlorofluorocarbons (CFCs), halon, carbon tetrachloride, methyl bromide yang biasa digunakan sebagai refrigerant mesin penyejuk udara, lemari es, spray, dan foam. Senyawa-senyawa tersebut merupakan bahan perusak ozon (BPO) atau ODS (ozone depleting substances). Indonesia terikat Montreal Protocol dan Kyoto Protocol yang telah diratifikasi untuk ikut serta mengurangi penggunaan BPO tersebut, namun demikian sulit dilaksanakan karena bahan penggantinya masih langka dan harganya relatif mahal.

Pencemaran air semakin meningkat. Penelitian di 20 sungai Jawa Barat pada tahun 2000 menunjukkan bahwa angka BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand)-nya melebihi ambang batas. Indikasi serupa terjadi pula di DAS Brantas, ditambah dengan tingginya kandungan amoniak. Limbah industri, pertanian, dan rumah tangga merupakan penyumbang terbesar dari pencemaran air tersebut. Kualitas air permukaan danau, situ, dan perairan umum lainnya juga menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Umumnya disebabkan karena tumbuhnya phitoplankton secara berlebihan (blooming) sehingga menyebabkan terjadinya timbunan senyawa phospat yang berlebihan. Matinya ikan di Danau Singkarak (1999), Danau Maninjau (2003) serta lenyapnya beberapa situ di Jabodetabek menunjukkan tingginya sedimentasi dan pencemaran air permukaan. Kondisi air tanah, khususnya di perkotaan, juga mengkhawatirkan karena terjadinya intrusi air laut dan banyak ditemukan bakteri Escherichia Coli dan logam berat yang melebihi ambang batas. Belum dilaksanakannya pengelolaan limbah secara terpadu dan sistematis. Meningkatnya pendapatan dan perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan berdampak pada peningkatan pencemaran akibat limbah padat, cair, maupun gas secara signifikan. Untuk limbah padat, hal ini membebani sistem pengelolaan sampah, khususnya tempat pembuangan akhir sampah (TPA). Sebagai gambaran, di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek) umur operasi TPA rata-rata tinggal 3-5 tahun lagi, sementara potensi lahan sangat terbatas. Selain itu, sampah juga belum diolah dan dikelola secara sistematis, hanya ditimbun begitu saja, sehingga mencemari tanah maupun air, menimbulkan genangan leacheate, dan mengancam kesehatan masyarakat. Penurunan kualitas air di badan-badan air akibat kegiatan rumah tangga, pertanian, dan industri juga memerlukan upaya pengelolaan limbah cair yang terpadu antar sektor terkait. Semakin tingginya intensitas kegiatan industri dan pergerakan penduduk menjadi pemicu memburuknya kualitas udara, terutama di perkotaan. Pengaturan mengenai sistem pengelolaan dan pengendalian gas buang (emisi), baik industri maupun transportasi diperlukan sebagai upaya peningkatan perbaikan kualitas udara. Selain itu, limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) yang berasal dari rumah sakit, industri, pertambangan, dan permukiman juga belum dikelola secara serius. Walaupun Indonesia telah meratifikasi Basel Convention, saat ini hanya ada satu fasilitas pengolahan limbah B3 yang dikelola swasta di Cibinong. Tingginya biaya, rumitnya pengelolaan B3, serta rendahnya pemahaman masyarakat menjadi kendala tersendiri dalam upaya mengurangi dampak negatif limbah terutama limbah B3 terhadap lingkungan.

4.      Pertambangan

Sifat usaha pertambangan, khususnya tambang terbuka (open pit mining), selalu merubah bentang alam sehingga mempengaruhi ekosistem dan habitat aslinya. Dalam skala besar akan mengganggu keseimbangan fungsi lingkungan hidup dan berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Dengan citra semacam ini usaha pertambangan cenderung ditolak masyarakat. Citra ini diperburuk oleh banyaknya pertambangan tanpa ijin (PETI) yang sangat merusak lingkungan.

dozer

5.      Ancaman Biodiversity

Tingginya ancaman terhadap keanekaragaman hayati (biodiversity). Sampai saat ini 90 jenis flora dan 176 fauna di Pulau Sumatera terancam punah. Populasi orang-utan di Kalimantan menyusut tajam, dari 315.000 ekor di tahun 1900 menjadi 20.000 ekor di tahun 2002. Hutan bakau di Jawa dan Kalimantan menyusut tajam, disertai rusaknya berbagai ekosistem. Gambaran tersebut menempatkan Indonesia pada posisi kritis berdasarkan Red Data Book IUCN (International Union for the Conservation of Nature). Di sisi lain, pelestarian plasma nutfah asli Indonesia belum berjalan baik. Kerusakan ekosistem dan perburuan liar, yang dilatarbelakangi rendahnya kesadaran masyarakat, menjadi ancaman utama bagi keanekaragaman hayati di Indonesia

6.      Banjir

Banjir sering terjadi saat musim hujan ketika curah hujan tinggi, dan dapat merusak saluran irigasi, jembatan, jalan, rumah penduduk dan areal pertanian. Selain itu, hewan dan manusia pun menjadi korban. Faktor-faktor yang menyebabkan antara lain Penggundulan hutan, Membuang sampah sembarangan, Tertutupnya tanah perkotaan dengan beton dan aspal dan Rusaknya tanggul sungai

 

banjir

7.      Gunung Meletus

Material yang dikeluarkan akibat gunung berapi akan merusak lingkungan.

  1. Lahar panas akan merusak segala sesuatu yang dilewati
  2. Lahar dingin dapat merusak areal pertanian dan permukiman penduduk serta bangunan-bangunan lain.
  3. Abu gunung api yang bertebaran di udara dapat mengganggu kesehatan dan lalu lintas

gunung meletus

8.      Gempa Bumi

 

Getaran gempa atau gerak kulit bumi yang kuat akan menimbulkan kerusakan lingkungan antara lain:

  1. Rusaknya sarana dan prasarana kehidupan,antara lain: jalan raya, jembatan dan permukiman penduduk.
  2. Terputus atau rusaknya jaringan telekomunikasi dan jaringan listrik.

    9.     
    Angin Topan

Contoh angin topan adalah angin lesus (Indonesia), taifun (Jepang), mistral (Perancis), tornado (Amerika), hurricane (Florida), dan willys (Australia). Angin topan dapat menimbulkan kerusakan, antara lain:

  1. Merobohkan bangunan rumah dan gedung yang kurang kuat
  2. Membahayakan penerbangan.
  3. Membahayakan pelayaran
  4. Merusak areal hutan, perkebunan dan pertanian
  5. Jika angin bersifat kering dan panas (fohn), dapat merusak tanaman.
  1. 10.  Musim Kemarau 

Musim kemarau yang panas dan panjang dapat merusak lingkungan hidup antara lain:

  1. Sumber air kering
  2. Sungai, danau dan air dalam tanah kering sehingga merugikan pertanian
  3. Banyak tumbuh-tumbuhan mati sehingga dapat mengancam kelangsungan hidup makhluk hidup
  4. Daun dan batang pohon menjadi kering sehingga mudah menimbulkan kebakaran hutan.

 

© 2018: LPLHI - KLHI | GREEN EYE Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress