LPLHI – KLHI

Lembaga Penyelamat Lingungan Hidup Indonesia – Kawasans Laut Hutan dan Industri

Selayang Pandang

LPLHI KLHI adalah lembaga Swadaya yang bertujuan untuk melakukan usaha-usaha konkrit dalam menyelamatkan dan melestarikan alam dan keanekaragaman hayati dan sumber daya alam yang ada diseluruh kawasan laut, hutan, dan industri di Indonesia, sebagai Negara dengan wilayah pesisir dan keanekaragaman hayati terkaya di dunia.

Read more

LPLHI KLHI

Lembaga Penyelamat Lingkungan Hidup Indonesia - Kawasan Laut Hutan dan Industri



KAJIAN AYAT DAN HADITS TENTANG LINGKUNGAN HIDUP

 

943631_1393621914188959_1013366235_n

Ketua I LPLHI-KLHI

(Al Ustadz Husnul Muttaqien)

Bencana selalu menimbulkan kesedihan, kepedihan,penderitaan, dan kerugian.contoh bencana Aceh menangis,Yogja berduka, pangandaran Jawa Barat, longsor Banjarnegara, Jatuhnya Pesawat Air Asia, putting beliung, kelaparan dan kekeringan di kemarau dan banjir tak kala hujan. Kenapa Semua penuh dengan luka dan derita? Kapan kita bersyukur?

Ada yang mengatakan, ini sudah takdir Allah.Bisa jadi betul.Para ilmuwan pun mengamini karena letak geografis Indonesia memang rawan bencana. Apalagi bencana sudah dalam rencana Tuhan seperti Q.S (Al-hadid) : 22. Deskripsi ala Indonesia di atas sekedar untuk menghentakkan kita bahwa sudah sedemikian parahkah alam dan lingkungan ini sehingga tak sayang terhadap penghuninya ?. Mungkin Tuhan mulai bosan bersahabat dengan kita.Atau alam mulai enggan bersama kita.

Sangat jelas ayat yang turun 1400 tahun yang lalu menerangkan bahwa kerusakan alam ini akibat ulah tangan manusia seperti diterangkan dalam Al Qur’an;

Artinya :Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”( QS. Ar Rum ayat 41-42 )

Keberadaan alam dan seluruh benda-benda yang terkandung di dalamnya merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Secara keseluruhan saling membutuhkan, dan saling melengkapi kekurangannya. Kelangsungan hidup dari setiap unsur kekuatan alam terkait dengan keberadaan hidup kekuatan lain. Kejadian alam dan apa yang di dalamnya saling mendukung sehingga ia disebut alam secara keseluruhan. Alam dan apa-apa yang ada di dalamnya seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang termasuk manusia dan benda mati yang ada di sekitarnya, serta kekuatan alam lainnya seperti angin, udara dan iklim hakekatnya adalah bagian dari keberadaan alam.

Nah, peranan manusia yang paling penting karena khalifah dan seluruh alam ini khusus Tuhan berikan untuk Kita (Manusia). Jangan pernah menyalahkan makhluk lain jika saat ini pemanasan global sedang terjadi. Kerusakan lingkungan, banjir dan longsor sering kita temui disekitar kita.Namun apa yang sudah kita perbuat?

Matahari tidak pernah bertambah panas, namun lapisan ozon lah yang sudah menipis.

Artinya :Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. ( QS. Ai A’raf ayat 56-58 )

 

Tentu kita memahami betul akibat yang akan dihadapi ketika kita merusak bumi. Alam sudah menangis dan menjerit. Apa kita sebagai insan hanya bisa tinggal diam dan menyaksikan bencana dan duka menyelimuti saudara-saudara kita?

Hutan yang gundul menyebabkan banyak hal, banjir, longsor, kekeringan akibat tidak adanya sumber serapan air dan hutan yang rusak akibat keserakahan manusia. “bajing hanya memakan kelapa satu buah dan itu juga perlu proses panjang, sedangkan Bajingan (manusia) mampu menghabiskan kebun dan gunung sekalipun”.

Saya mengajak agar kita semua ikut andil untuk menjada dan melestarikan lingkungan dengan baik. Tanpa dukungan dari semua kalangan tentu semua itu akan sia-sia. Jika hanya segelintir orang yang berbuat untuk alam sedangkan yang merusak sangat banyak hanya akan menjadi seperti buih dilautan. Mari kita jaga alam ini dengan baik dan terus menanam agar terjaganya ekosistem dan kelangsungan hidup manusia.Mari kita tunda kiamat dengan menjada alam ini.

Insyaallah Bermanfaat

Masalah Sampah laut di Indonesia

Washington DC – Secara keseluruhan, sekitar 8,8 juta ton plastik ditemukan di laut-laut seluruh dunia. Jumlah ini dinilai jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya dan dianggap setara dengan banyaknya tuna yang dipancing per tahun.

“Jumlah itu setara dengan 5 kantong belanja penuh dengan sampah plastik yang menutupi setiap 30 cm garis pantai di seluruh dunia,” ujar Kepala Penelitian Jenna Jambeck, seorang profesor teknik lingkungan di University of Georgia, berdasarkan studi baru yang melacak sampah di laut berdasarkan sumbernya, seperti dimuat Voa News, Jumat (13/2/2015).

antarafoto-PencemaranLaut080112

Jambeck menjelaskan, dari temuan studinya, China dan Indonesia merupakan 2 negara yang paling banyak membuang sampah ke laut. Selain itu, negara lainnya adalah Filipina, Vietnam dan Sri Lanka.

Kata dia, lebih dari setengah sampah plastik yang mengalir ke laut datang dari 5 negara, yakni China, Indonesia, Filipina, Vietnam dan Sri Lanka, diikuti oleh Thailand, Mesir, Malaysia, Nigeria dan Bangladesh.

Sampah pantai

Ilmuwan tersebut memperkirakan akumulasi sampah plastik di lautan akan mencapai sekitar 170 juta ton pada 2025 jika para penyumbang terbesar, yakni mayoritas negara-negara berkembang di Asia tidak menanggulangi cara pembuangan sampah.

“Perkiraan ini berdasarkan tren populasi dan penanganan sampah tiap negara, meski ada beberapa perubahan untuk mengelolanya dengan lebih baik,” papar Jenna Jambeck.

 

Negara industri Barat yang berada di daftar 20 penyumbang sampah plastik terbesar adalah Amerika Serikat. “Sampah plastik yang datang dari negara itu adalah karena pembuangan sampah sembarangan,” kata Jenna.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Science itu, China bertanggung jawab atas 2,4 juta ton plastik yang sampai di lautan, atau hampir 28 persen dari jumlah total. AS berkontribusi menambah jumlah sampah 77.000 ton atau kurang dari 1 persen.

“Negara-negara maju biasanya memiliki sistem untuk menjerat dan mengumpulkan sampah plastik,” ujar Jambeck.

IMG_4686

 

Nancy Wallace, yang mengepalai program sampah kelautan di Badan Nasional Kelautan dan Atmosferik, mengatakan sampah plastik di perairan merupakan isu penting di dunia karena sampah itu dimakan makhluk-makhluk laut dan juga mengumpulkan racun di laut.

“Selain itu butuh biaya pembersihan yang besar dan mempengaruhi pariwisata,” kata Jambeck.

Dalam penelitiannya itu, Jambeck dan timnya menggunakan statistik Bank Dunia mengenai aliran sampah 192 negara untuk melacak dan memperkirakan polusi plastik dari sumbernya.sampah-di-laut-kayu-pulau-480x360

Kondisi Gajah Sumatra di Aceh Terancam Punah

Kondisi “Poe Meurah” yang semakin parah di Aceh

1496615_1004135122935189_3023668777652440662_n

“Poe Meurah” begitulah sebutan masyarakat aceh bagi hewan dari spesies Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang merupakan salah satu dari jenis gajah yang terdapat di alam yang merupakan hewan yang sangat dilindungi oleh pemerintah karena keberadaan jumlah spesies ini di alam sudah sangat sedikit. Oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) yang merupakan lembaga yang bergerak di bidang konservasi berskala internasional telah memberi status konservasi “Critically Endangered” atau “kritis” bagi hewan bertubuh besar ini.

10686751_1004144106267624_2086737093366275324_n

 

Keberadaan gajah sumatera menjadi semakin terancam akibat habitat alami mereka terganggu karena pembukaan lahan oleh masyarakat. Deforestasi menjadi pemicu utama konflik yang berkepanjangan antara gajah dan masyarakat akibat gajah memasuki area perkebunan milik masyarakat karena wilayah jelajah (home range) mereka yang semakin terbatas. Hal ini memaksa masyarakat untuk membunuh gajah yang memasuki area perkebunannya dengan cara menjerat hewan ini dengan jebakan ataupun meracuni hewan ini.

10653733_1004132142935487_5580741811071123703_n

 

Kondisi lain yang menjadi pemicu dalam menurunnya jumlah spesies gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di alam adalah perburuan yang dilakukan terhadap hewan ini untuk mengambil gadingnya. Data dari WWF (World Wildlife Fund) Aceh tercatat sejak tahun 2012 hingga 2014 tidak kurang dari 31 ekor gajah mati di Aceh yang diduga kuat akibat perburuan gading gajah.

Gajah-aceh-timur1-DSC01974

Dua ekor gajah jantan ditemukan tewas dengan jarak terpisah sejauh 200 meter di kawasan PT Perkebunan Dwi Kencana Semesta, di Desa Jambo Reuhat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur pada tanggal 7 September 2014. (Sumber : Hendri/Harian Serambi Indonesia.

Kondisi terkini ditemukan 2 ekor gajah mati di lokasi perkebunan PT Dwi Kencana Semesta, Gampong (desa) Jambo Reuhat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur. Kematian gajah ini diduga akibat perburuan gading oleh para pemburu liar karena ketika ditemui gajah dalam kondisi tanpa gading dan bagian kepala hampir terputus dengan darah yang terus mengalir dari bagian tersebut.

a2d000ac37fa5be968f93caac7dd3000

Kasus ini menambah panjang daftar kematian gajah di Aceh akibat perburuan gading. Penulis berharap agar pemerintah Aceh melalui instansi terkait serius untuk mengusut kasus ini dan menindak tegas para pelaku perburuan gading gajah, agar kelestarian satwa ini tetap terjaga sehingga tidak mengurangi khazanah keanegaragaman hayati fauna di Aceh.

gajah mati di teunom aceh jaya

KEPALA Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Genman Suhefti Hasibuan, mengatakan kasus kematian gajah di pedalaman Aceh Jaya sudah dilimpahkan ke aparat keamanan.

“Kasus ini sudah kita limpahkan kepada Polres Aceh Jaya untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut,” ujar kepala Genman Suhefti Hasibuan kepada Atjehpost.co, Jumat, 5 Desember 2014.

Menurutnya, sampai saat ini BKSDA bekerjasama dengan kepolisian masih kesulitan untuk mengungkap kasus kematian gajah berusia 12 tahun tersebut. Pasalnya, BKSDA tidak bisa melakukan otopsi lantaran seluruh organ tubuh gajah tersebut sudah mencair dan membusuk.

“Hasil dugaan sementara lewat kasat mata dan secada fisik, gajah ini tewas karena tersengat listrik. Hal ini terbukti adanya beberapa potongan kayu yang diikat kawat dan dialiri listrik. Tapi kawatnya tidak kami temukan disana,” ujarnya lagi.

Ia juga menjelaskan, berdasarkan hasil investigasi terhadap fisik gajah jenis kelamin betina dalam kondisi perut terbelah dan seluruh organ dalam perutnya sudah terburai dan meleleh.

pjjphBJsRExrnYb-580x326-noPad

“Dugaan sementara Gajah itu dibunuh dengan cara disetrum sebab akhir-akhir ini warga sering mengeluh kalau kebun dan ladang mereka sering diganggu oleh gajah,” ujarnya lagi.

Seperti diberitakan sebelumnya, seekor gajah berusia 12 tahun diduga mati akibat tersengat arus listrik di pedalaman Aceh Jaya. Hal itu disampaikan Kepala BKSDA Aceh.

Menyelamatkan potensi wisata Bahari Pulau Bengkaru Aceh Singkil

Mengunjungi Kabupaten Aceh Singkil berarti anda akan mengunjungi beberapa tempat yang sangat indah. Di Aceh Singkil terdapat banyak tempat wisata mulai dari Pantai, pulau, air terjun sampai pemandangan terumbu karang, dengan potensi tempat wisata yang sangat beragam seperti itu seharuanya Aceh Singkil dapat menarik banyak wisatawan, namun masalah klasik (kurangnya perhatian dari Pemerintah Daerah) menjadikan tempat² wisata tersebut bagai tertidur tanpa ada gaungnya keluar Kab. Aceh Singkil. Berikut beberapa tempat wisata di Aceh Singkil.

1. Pulau Bengkaru

Bagi anda yang menyukai atau ingin melihat penyu, maka datanglah ke Pulau Bengkaru di Kec. Pulau banyak kab. Aceh Singkil. Jarak dengan ibukota kabupaten 48 mil laut dan kecamatan 24 mil laut. Prasarana perhubungan cukup baik, untuk menuju kesana wisatawan cukup dengan menggunakan jasa transportasi kapal feri atau speed boat. Daya tarik pendukung adalah penangkaran penyu hijau. Aktivitas yang dapat dilakukan disana oleh wisatawan adalah surfing, swimming dan snorkeling.

Selain itu pemandangan Teluk Berasi merupakan tujuan wisata yang lain di Pulau Bengkaru ini, jadi bagi anda yang senang dengan penyu dan pantai, tidak ada salahnya mengunjungi pulau Bengkaru Kec. Pulau Banyak KabupatenAceh Singkil

penyu

2. Pulau Tailana
Masih di Kec. Pulau Banyak, kita bisa mengunjungi sebuah pulau dengan pasir putih dan pantai yang sangat tenang, cocok untuk berenang :D Kalau pemandangannya dijamin tidak akan mengecewakan anda, mau coba?
Masih banyak tempat wisata di Aceh Singkil yang akan saya bahas di posting berikutnya, berupa air terjun dan pemandangan terumbu karang

Pulau Tailana - 02

Habitat Penyu Hijau Terancam

Pengelolaan Pulau Bengkaru di Kepulauan Banyak, Kabupaten Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam, perlu dievaluasi. Sebab, pulau tempat bertelur penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu belimbing (Dermochelys coriaceae) itu ternyata diserahkan pemerintah kabupaten kepada pengusaha telur penyu.

Setiap hari sekitar seribu telur penyu hijau dan penyu belimbing dari salah satu pulau terluar di Indonesia yang berjarak sekitar 58 mil dari kota Singkil itu diambil dan dijual bebas oleh pengusaha yang memenangi lelang. Ini bukan mustahil mengancam habitat penyu yang terancam punah tersebut.
Sumali (36), pengelola Pulau Bengkaru (12.000 hektar), yang ditemui baru-baru ini mengatakan, setiap bulan ia menyetor Rp 1 juta kepada Dinas Pendapatan Kabupaten Singkil atas hak pengelolaan telur penyu di pulau itu.

Sumali juga mengaku mengeluarkan uang Rp 1,6 juta per bulan untuk sejumlah pejabat di Kecamatan Pulau Banyak hingga Kabupaten Singkil. Saya menjalankan hak mengelola telur penyu di Bengkaru, yang kontraknya atas nama adik saya, Risman. Pengambilan telur penyu sudah berlangsung lama, dan pengusaha yang menang kontrak berganti-ganti. Kami baru sekali memenangi kontrak, kata Sumali.

Dalam Surat Perjanjian Kontrak Nomor 973/475/2005 yang ditandatangani Risman (33) selaku pengusaha dan Kepala Dinas Pendapatan Kabupaten Singkil Sjamsuddin Rizzard atas nama Bupati Singkil pada 23 Oktober 2005, Risman diperbolehkan mengambil 50 persen telur penyu di titik ketiga pada garis pantai.

Kontrak yang akan berakhir November 2006 itu juga menyebutkan, Risman harus membayar Rp 1 juta per bulan kepada Pemerintah Kabupaten Singkil. Sumali mengaku bebas mengambil dan menjual telur penyu dari Pulau Bengkaru.

Seperti terlihat pekan lalu, dua orang suruhan Sumali mengambil semua telur penyu hijau yang ada di tiga sarang. Malam sebelumnya, penyu yang ada di kawasan itu bertelur sekitar 350 butir.

Pejabat Sementara Bupati Singkil Azmi mengatakan, penjualan telur penyu dibuat oleh bupati lama. Saya menjabat untuk sementara, sejak Juni 2005, katanya.

Mengenai kontrak terakhir yang ditandatangani pada Oktober 2005, Azmi mengatakan, ia tidak diberi tahu oleh bawahannya mengenai hal itu. Secara pribadi saya tidak tahu, tetapi akan saya selidiki. Pengelolaan penyu di Bengkaru tidak dibenarkan karena penyu harus dikonservasi, ucapnya.

Muhammad Tachsis, pegawai Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Nanggroe Aceh Darussalam di Kepulauan Banyak, mengatakan, Pulau Bengkaru sudah ditetapkan sebagai kawasan KSDA sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 12/KPTS/II/1987.
Pengambilan telur penyu hijau dan penyu belimbing juga melanggar undang-undang. Namun, kami tak bisa menghentikan pengambilan telur penyu karena pemerintah kabupaten yang melelang kepada pengusaha. Jika tak segera dihentikan, keberadaan penyu langka di Bengkaru akan punah, kata Tachsis.(Sumber Kompas)

telur-penyu

Penyu Langka yang Terancam Punah

PASIR putih membentang sepanjang pantai Pulau Bangkaru. Ombak kecil yang mendesir di bibir pantai membuat pengunjung betah berlama-lama menikmati pemandangan indah nan menawan di pulau asing itu. Di balik keindahan itu, Pulau Bangkaru ternyata menyimpan segudang masalah.

Habitat Penyu Hijau dan Penyu Belimbing yang ada di Pulau Bangkaru, Kepulauan Banyak, Aceh Singkil, terancam punah. Padahal, dua jenis penyu itu merupakan spesies langka di Indonesia. Kepunahan dua jenis penyu itu disebabkan telur-telur yang dihasilkan penyu banyak dikonsumsi manusia.

Telur yang dihasilkan penyu belimbing dan hijau berkisar antara 250 dan 300 biji dalam semalam. Penyu-penyu itu bertelur di sepanjang pantai pasir putih yang terhampar sepanjang 1.300 meter yang ada di Pulau Bangkaru. Setiap malam, warga di sana berburu telur penyu untuk dikonsumsi.

Akibat perburuan telur penyu hijau dan belimbing ini, kelangsungan hidup kedua penyu langka di Pulau Bangkaru ini pun terancam punah. Ironisnya lagi, di saat penyu-penyu itu terancam punah, Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil malah menyewakan pengelolaan pulau tersebut kepada Rosmali, yang lebih dikenal dengan sebutan Juragan Mali. Kini, Juragan Mali lah yang memasarkan telur-telur penyu langka itu.

Sebagai pengusaha yang memenangkan tender pengelolaan pulau tersebut sejak empat bulan lalu, Juragan Mali harus menyetor Rp 1.000.000 per bulan kepada Pemkab Aceh Singkil, yang nantinya masuk sebagai pendapatan asli daerah (PAD).

Setelah menandatangani “kontrak” dengan Dinas Pendapatan Daerah, jadilah Juragan Mali sebagai penguasa Pulau Bangkaru. Dia juga menjadi juragan telur penyu. Pulau Bangkaru itu dijaga dua pekerja Juragan Mali. Sementara dia, sepekan sekali singgah ke pulau terluar itu. Setiap singgah di Bangkaru, dia membawa serta 5.000 hingga 6.000 butir telur, yang dijual Rp 700 per butirnya. Selain dipasarkan di Singkil, telur-telur itu juga dipasarkan ke Sibolga Provinsi Sumatera Utara, melalui perantara para nelayan.

Juragan Mali diharuskan menyetor Rp 1.600.000 setiap bulannya ke pihak kecamatan dan tiga perangkat hukum di Pulau Balai. “Ke Polsek Pulau Banyak, Pos TNI AL, dan Koramil 01 Pulau Balai. Selain uang keamanan, setiap bulan harus mengantarkan 50 butir telur penyu ke Muspika,” kata Juragan Mali kepada acehkita.com dan sebuah media nasional, pekan lalu.

Lantas, adakah upaya untuk menjaga kelangsungan hidup penyu langka?
Mali menyebutkan, pihaknya telah melakukan penangkaran di pulau itu untuk melestarikan penyu. Ada 11 sarang yang telurnya ditangkarkan. Namun upaya itu akan sia-sia lantaran cara penangkarannya tetap tidak efektif karena setelah menetas penyu-penyu muda dibawa dan dirawat di keramba miliknya. “Setelah agak besar baru dilepas lagi ke laut,” katanya. Usaha penangkaran yang dilakukan Juragan Mali tidak sebanding dengan pengambilan telur penyu yang sudah dilakukannya sejak empat bulan silam.

Bukan hanya Mali yang mengancam habitat penyu langka itu. Sebelumnya, telah banyak pengusaha yang mengeruk kekayaan alam Pulau Bangkaru. Selain telur, nelayan asal Sibolga, Sumatera Utara, juga menangkap penyu dewasa untuk dikonsumsi manusia. Penangkapan dilakukan dengan cara menyebarkan jaring ketika penyu “mendarat” ke pantai.

Pulau Bangkaru merupakan salah satu pulau yang terletak di gugusan Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil. Pulau ini mempunyai pemandangan wisata yang sangat menarik dipandang mata. Setiap pendatang yang berkunjung ke pulau ini, pasti akan terkagum-kagum pada keindahan yang disajikan pulau. Karenanya, tidak heran jika banyak pengusaha yang berebutan ini menguasai pulau yang berjarak 32 mil dari Kota Singkil, ibukota Kabupaten Aceh Singkil.

Lantas apa menariknya Bangkaru? Sebagai satu dari banyak pulau terluar di nusantara ini, Bangkaru telah ditetapkan menjadi kawasan konservasi alam dan lingkungan oleh Menteri Kehutanan sejak tahun 1990. Selain itu, Pulau Bangkaru mempunyai pantai dengan ombak yang sangat bagus untuk berselancar.
“Ombaknya yang ada di Bali kalah jauh, apalagi yang ada di Pulau Nias,” kata Taksis, salah seorang warga yang kerap mengantarkan wisatawan asing ke pulau tersebut sekitar tahun 1970-1980-an.
Menurut Taksis, setiap tahunnya tidak kurang ada sekitar 6.000an wisatawan yang berwisata ke pulau tersebut. “Biasanya dua hingga tiga malam di sana. Bahkan, ada yang sampai habis visa baru pulang,” kenang Taksis.

Wartawan lokal acehkita.com dan nasional Kompas berkesempatan menuju kesana menapaki pulau “rebutan” itu. Pemandangan hutan alami yang disodorkan sungguh memanjakan mata; hutan perawan yang belum dijamah tangan nakal manusia serakah.
“Bule paling suka dengan tracking. Jadi hutan paling cocok untuk hobi itu,” kata Taksis.
Hanya ada satu pondok reot di pulau itu, yang memiliki sebuah sumur. “Dulu ada bangunan panjangnya 17 dan lebar 8 meter,” sebut Taksis yang bersama sejumlah warga Pulau Banyak lain, melalui sebuah yayasan, berusaha melestarikan lingkungan dan habitat penyu langka di Bangkaru. Yayasan yang disebut Taksis ini pernah mengelola Pulau Banyak selama tiga tahun. Pekerjaan utama yayasan itu adalah menyelamatkan penyu-penyu langka dari kepunahan. Upaya penyelamatan penyu itu, dilakukan warga dengan dibantu peneliti dan penyelamat penyu langka asal Swedia, Andreas de Fos, lebih dikenal dengan sebutan Mahmud Bangkaru.

Sayang, konflik bersenjata pada tahun 1999 memaksa Mahmud Bangkaru keluar dari Aceh. Akibatnya, yayasan itu tidak lagi berjalan karena terkendala biaya operasional. Sebab, sekali jalan untuk menjangkau Bangkaru, harus menghabiskan fulus berkisar antara Rp 800 ribu hingga sejuta rupiah.
“Dulu masih bisa ditutupi karena kita dibantu Mahmud dan para bule yang datang untuk liburan. Dia lihat kita melestarikan penyu dia bantu,” sebut Taksis.

Kini, kehidupan penyu tidak lagi terjaga. Ancaman kepunahan penyu langka itu sudah berada di depan mata. Taksis berharap pemerintah segera mengambil langkah-langkah antisipatif untuk menyelamatkan penyu langka di sana. Jika tidak, berbilang tahun saja, Penyu Hijau dan Belimbing hanya akan tinggal nama saja, akibat keserakahan manusia.

penyu-sedih

Banyak Masalah di Kepulauan Banyak

Pada awal tahun 1990-an Kepulauan Banyak, Kabupaten Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam, dikenal sebagai salah satu tujuan wisata. Selama tahun 1994, 473 wisatawan asing berkunjung ke kepulauan ini. Jumlah ini naik hingga 700 orang di tahun berikutnya. Tahun 1997, jumlah ini diperkirakan mencapai 6.000-10.000 orang.

Jumlah wisatawan ini lebih besar dari total jumlah penduduk di kepulauan ini—tahun 2005 jumlah penduduk sekitar 6.237 jiwa. Ada tiga pulau terbesar dan terpadat, yaitu Pulau Balai yang dihuni 1.436 jiwa, Pulau Teluk Nibung 860 jiwa, dan Pulau Tuangku yang berpenduduk 679 jiwa. Penduduk lainnya tersebar di sejumlah pulau kecil yang jumlahnya diperkirakan mencapai 99 pulau. Pulau Balai adalah yang terdekat dengan daratan Sumatera—empat jam perjalanan kapal dari Singkil.

Banyaknya wisatawan tak lepas dari berbagai potensi wisata yang ditawarkan kepulauan ini. Pulau Bengkaru, salah satu pulau terluar Indonesia, setiap malam puluhan ekor penyu langka mendarat dan bertelur.

Di antaranya penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu tempayan (Caretta caretta).

Selain itu, perairan di sekitar Bengkaru memiliki gelombang tinggi yang digemari oleh para peselancar.

Perairan antarpulau menyimpan kekayaan terumbu karang dan aneka jenis ikan. Sebuah surga bagi penyelam. Sementara pantainya berpasir putih. Kawasan ini juga dikenal sebagai penghasil lobster.

Dulu, setiap hari ada wisatawan asing minta diantar keliling pulau. Mereka biasanya menyelam dan sebagian berselancar di sekitar Bengkaru. Mereka menginap berhari-hari sehingga ada lapangan kerja bagi masyarakat, kata Safnil (41), Sekretaris Kecamatan Kepulauan Banyak.

Konflik

Sejak konflik berkecamuk di Aceh, semua keindahan itu terabaikan. Wisatawan menghilang, terutama wisatawan asing, karena saat itu sempat ada larangan bagi warga asing masuk ke Aceh.

Kini tinggal satu hingga dua wisatawan berselancar di Bengkaru. Pariwisata di Kepulauan Banyak pun terus meredup dan padam setelah gempa keras 28 Maret 2005.

Akibat gempa, pulau di pantai barat Pulau Sumatera didera problem ekologi.

Pascagempa, sebagian pulau tenggelam hingga 1,5 meter, bahkan pulau-pulau kecil lenyap. Tanaman bakau dan kelapa di pantai mati akibat hantaman tsunami. Dahan-dahan bakau dan batang kelapa mengering hingga kini masih terlihat, menjadi jejak bencana. Populasi kepiting dan udang menyusut.

Di Pulau Balai, penurunan muka daratan menyebabkan ratusan rumah tenggelam. Jalan utama terendam air hingga satu meter saat pasang.

Ratusan warga mengungsi, membangun gubuk darurat di tengah pulau yang aman dari air laut. Sebagian warga mencoba menimbun jalan-jalan yang terendam air laut, dan sebagian mulai membangun rumah di lokasi yang aman. Pembangunan ini membawa masalah.

Warga menimbun jalan dan membangun fondasi dengan terumbu karang yang selama ini merupakan urat hidup mereka.

Terumbu karang adalah tempat bersarang lobster dan aneka jenis ikan karang yang menjadi komoditas penting.

Terumbu karang juga menyelamatkan kepulauan ini dari empasan tsunami.

Namun, pemandangan warga mengambil terumbu karang dari dalam laut kini menjadi pemandangan biasa. Aneka jenis terumbu karang, seperti Poritas spp, Acropora spp, serta jenis karang tanduk dihancurkan dan dijadikan batu uruk jalan.

Alasan semuanya itu adalah, ongkos mendatangkan bahan bangunan dari luar kepulauan amatlah mahal. Proyek-proyek pembangunan infrastruktur oleh pemerintah pun menggunakan terumbu karang. Misalnya dermaga es oleh Dinas Perikanan tahun silam, juga proyek pengerasan jalan oleh pemerintah setempat, kata Achmad Tachsis, Staf Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) NAD yang bertugas dan tinggal di Kepulauan Banyak.

Secara tradisional, warga sudah biasa memanfaatkan terumbu karang untuk membangun rumah dan jalan. Akan tetapi, saat pascabencana, kegiatan ini semakin marak.

Tachsis mengatakan, pemerintah seharusnya membuat kebijakan berwawasan kepulauan karena lokasi dan struktur geologis kepulauan yang spesifik.

Di Kepulauan Banyak tidak ada material yang bisa dipakai sebagai bahan bangunan, seperti pasir, semen maupun batu bata.

Sementara, Tak mungkin warga mampu mendatangkan material dari luar kepulauan karena harganya melonjak enam kali lipat. Ongkos membawanya sangat mahal, katanya.

Selama ini warga tergantung pada angkutan kapal dari Singkil dengan ongkos Rp 25.000 sekali jalan ditambah barang Rp 10.000. Jika sewa, ongkosnya Rp 600.000 sekali jalan. Kapal feri penumpang dari dan ke Singkil hanya dua kali seminggu. Saat ini kapal feri tak bisa merapat di pelabuhan karena perubahan permukaan laut sehingga warga tak bisa bawa banyak barang.

Menurut Tachsis, ketersediaan angkutan laut yang murah untuk membawa material bangunan dari luar kepulauan sangat mendesak. Jika tidak, perusakan terumbu karang akan terus terjadi. Saat ini di Aceh ada proses rekonstruksi besar-besaran, tetapi saya tidak melihat upaya ini dilakukan di Pulau Banyak. Padahal, ratusan warga rumahnya tak bisa dipakai lagi. Rekonstruksi sepertinya belum menyentuh pulau-pulau kecil terpencil, katanya. Getir terdengar.

mr2x8k6x

Marilah kita Lestarikan Potensi Wisata Bahari di Kabupaten Aceh Singkil

SALAM LESTARI

  • All the developers of D5 Creation have come from the disadvantaged part or group of the society. All have established themselves after a long and hard struggle in their life ----- D5 Creation Team
© 2018: LPLHI - KLHI | GREEN EYE Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress